Akurat Logo

Dampingi Masyarakat Kelola Sampah, Pemprov Jabar Libatkan 25 Ribu Mahasiswa

Okto Rizki Alpino | 7 Oktober 2026, 21:38 WIB
Dampingi Masyarakat Kelola Sampah, Pemprov Jabar Libatkan 25 Ribu Mahasiswa
Sekda Jabar, Herman Suryatman, mengatakan, keberhasilan pelibatan mahasiswa dalam pengelolaan sampah akan direplikasi di Bandung Raya. - Foto: Humas Pemprov Jabar

AKURAT.CO Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan konsolidasi dengan perguruan tinggi untuk bersinergi menangani urusan persampahan di hulu.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menjelaskan, sebanyak 25.000 mahasiswa akan turun ke lapangan selama tiga bulan, mulai Oktober 2026, untuk mengedukasi dan mendampingi masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Mahasiswa akan mendapatkan konversi kegiatan menjadi 10 SKS serta dibekali modul dan perangkat digital sebagai panduan pelaksanaan.

Herman menuturkan bahwa pogram berskala besar tersebut merupakan pengembangan dari uji coba di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, yang melibatkan 500 mahasiswa selama tiga bulan.

Hasil evaluasi pada program tersebut menunjukkan pendampingan mahasiswa mampu menurunkan timbulan sampah sekitar 20 persen, sekaligus meningkatkan pemilahan sampah hingga dua kali lipat.

Baca Juga: Proyek Data Center Jatiluhur Disetop, Ekonom: Kebijakan Gubernur Jabar Rusak Iklim Investasi

Keberhasilan itu akan direplikasi ke sekitar 52 kecamatan di Bandung Raya. Pemprov Jabar telah melakukan konsolidasi dengan para camat dan perguruan tinggi untuk mempersiapkan pelaksanaannya.

"Targetnya adalah mengurangi sampah dari sumbernya hingga 20 persen. Jika target tersebut tercapai, dari sekitar lima ribu ton sampah yang dihasilkan Bandung Raya setiap hari, sekitar seribu ton dapat ditekan sebelum mencapai TPA Sarimukti," jelas Herman, di Gedung DPRD Jabar, Selasa (6/10/2026).

Di sisi lain, Pemprov Jabar juga mendorong optimalisasi fasilitas pengolahan sampah yang telah tersedia di kabupaten dan kota di Bandung Raya. Mulai dari TPS 3R, pemilahan, RDF, pengomposan, budidaya maggot hingga berbagai teknologi pengolahan lainnya akan disesuaikan dengan karakteristik sampah dan kondisi masing-masing wilayah.

Herman menilai banyak fasilitas sebenarnya telah tersedia, tetapi belum bekerja secara optimal. Salah satu persoalannya adalah sampah yang masuk belum terpilah sehingga teknologi pengolahan tertentu tidak dapat bekerja maksimal.

Ia mencontohkan fasilitas budi daya maggot yang membutuhkan sampah organik terpilah. Ketika sampah masih bercampur dengan plastik dan material lain, fasilitas tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.