Bocah SD Meninggal Usai Dirundung, Begini Kata Disdikbud Tasikmalaya

AKURAT.CO Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tasikmalaya akhirnya buka suara terkait kasus perundungan yang menimpa anak berusia 11 tahun di Singaparna.
Asal tahu saja, perundungan tersebut mengakibatkan anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) itu meninggal dunia karena depresi setelah dipaksa setubuhi kucing.
Kepala Disdikbud Iin Aminudin mengatakan, adanya kasus perundungan anak yang masih usia pelajar itu menjadi perhatian pemerintah.
Menurut Iin, tidak hanya peran pemerintah salah satunya melalui lembaga pendidikan, melainkan kewajiban semua elemen untuk bersama-sama saling mengawasi agar tidak ada lagi kasus perundungan terhadap anak.
“Ini merupakan kewajiban semua pihak, ya pemerintah, dan Dinas Pendidikan, ya orang tua, dan juga elemen-elemen masyarakat lain mempunyai kewajiban untuk membentuk karakter yang diimplementasikan perilaku, baik perilaku individu interaksi dengan temannya, interaksi dengan di atasnya, orang tua atau kelompok tertentu,” kata Iin, dikutip Senin (25/7/2022).
Dia menambahkan, khusus di Disdik Kabupaten Tasikmalaya saat ini sudah berupaya menginstruksikan semua jajaran kepala sekolah, guru, dan pengawas untuk selalu berusaha menjaga anak-anak dari sesuatu pengaruh buruk.
“Makanya isu pendidikan ada tiga, di antaranya itu perundungan, kekerasan seksual, kaitannya intoleransi,” tuturnya.
“Ini merupakan tugas besar bidang pendidikan, tapi bukan berarti tugas Dinas Pendidikan, tapi ini semua tugas kita,” tandasnya.
Sebagai informasi, kasus ini bermula ketika korban yang kerap menjadi target perundungan sejumlah temannya itu, kerap disuruh untuk bersetubuh dengan kucing. Aksi itu kemudian direkam oleh teman-teman korban.
Namun, rekaman korban itu lalu disebar oleh teman-temannya. Korban yang mengetahui rekaman itu tersebar menjadi depresi dan tidak mau makan.
Akibat dari hal tersebut, kondisi tubuh korban melemah dan oleh orang tuanya membawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Namun takdir berkata lain, nyawa korban tidak bisa diselamatkan hingga dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (18/7/2022).
Ibu kandung korban, T (30) mengatakan, anak kedua dari empat bersaudara tersebut memang kerap mendapatkan perundungan oleh teman-temannya.
“Seminggu sebelum meninggal, rekamannya itu menyebar. Dia pun di-bully teman-temannya makin menjadi. Anak saya jadi malu, tak mau makan minum. Bahkan melamun sampai dibawa ke rumah sakit dan meninggal saat perawatan,” ujarnya, Rabu (20/7/2022).
Kepada ibu kandungnya, korban mengaku dipaksa teman-temannya menyetubuhi kucing sambil ditonton dan diolok-olok.
“Sebelum kejadian itu, katanya suka dipukul-pukul oleh mereka. Puncaknya dipaksa begitu,” katanya. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 3Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 4Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 5Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 6Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 7Prediksi Prancis vs Italia 3 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat



