Belasan Cobra Masuk Pemukiman, Pakar Reptil: untuk Cegah Masuk Rumah, Rajin-rajinlah Ngepel Lantai

AKURAT.CO, Pakar reptil Amir Hamidy mengungkapkan beberapa cara untuk mencegah agar ular kobra tidak memasuki lingkungan rumah, termasuk dengan cara sederhana, yaitu rajin membersihkan rumah dan mengepel lantai.
"Pencegahannya adalah buat rumah setidak nyaman mungkin untuk ular. Yang harus dilakukan pertama yaitu rajin dipel, setiap pagi harus dipel, karena pembersih lantai itu ada wangi menyengat yang sangat tidak disukai oleh ular. Kapur barus juga tidak disukai oleh ular," kata peneliti herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, hari ini.
Tindakan pencegahan kedua, menurut Amir, adalah harus menyingkirkan barang-barang tidak digunakan lagi yang membentuk tumpukan-tumpukan, seperti tumpukan kardus, kertas, batu dan genting, yang berada di sekitar rumah karena merupakan habitat yang disukai oleh ular untuk meletakkan telur-telurnya.
Langkah ketiga yang bisa diambil untuk mencegah ular untuk menjadikan rumah sebagai habitatnya adalah menyingkirkan sisa makanan yang ada di dapur setiap harinya. Hal itu perlu dilakukan karena sampah organik yang menumpuk akan mengundang tikus yang merupakan mangsa alami bagi ular kobra.
Menurut dia tindakan pencegahan tersebut perlu dilakukan karena kobra, yang bisa tinggal di habitat yang dekat dengan aktivitas manusia, adalah jenis ular berbisa yang dapat membahayakan bagi manusia.
Selain itu, kata doktor dari Universitas Kyoto di Jepang tersebut, ular kobra adalah jenis ular yang bisa menelurkan 10 sampai 20 telur dengan siklus penetasan 2-4 bulan.
Kemunculan ular kobra di beberapa tempat di Indonesia yang menghebohkan masyarakat, kata dia, bukanlah hal mengejutkan karena musim hujan merupakan waktu anakan ular menetas dan merupakan siklus tahunan.
Jadi wajar, kata Amir, jika populasi ular kobra meningkat saat musim hujan karena telur ular memerlukan suhu yang lembab untuk menetas dan jika suhu panas, telur akan mengering.
Hal itu diperparah karena di daerah dekat kemunculan kobra di dekat permukiman sudah tidak terdapat predator alami ular yang bisa membantu mengurangi populasinya.
"Dulu predator alaminya itu seperti elang yang merupakan predator alami ular. Kobra itu dimakan sama dia. Tapi kan hewan-hewan itu sudah kita tembak, buru," kata Amir Hamidy.
Sebelumnya beberapa daerah dikejutkan dengan kemunculan belasan hingga puluhan kobra yang berada di sekitar permukiman warga. Kejadian itu terjadi di Jember (Jawa Timur), Cakung (Jakarta), dan Citayam (Jawa Barat). []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi


