Akurat Logo

Keluar Masuk Hutan Demi Satwa Langka

Khaerul S | 22 Maret 2019, 15:42 WIB
Keluar Masuk Hutan Demi Satwa Langka

AKURAT.CO Regina Safri menghabiskan tiga tahun lebih untuk menyelesakan buku foto “Before Too Late.” Dia rela keluar masuk hutan dari Aceh sampai Lampung demi memotret satwa liar. Ini adalah buku foto kedua miliknya yang terbit setelah Orangutan Rhyme dan Blues. Selain buku foto, dia juga sempat menerbitkan tiga buku tentang foto jurnalistik.

Rere -- sapaan akrabnya -- bercerita mengenai perjalanannya membuat buku foto ini dalam acara diskusi dan launching buku foto Before Too Late di Bentara Budaya Yogyakarta, Rabu (20/3/2019).

Yogyakarta menjadi kota kelima dalam rangkaian tournya kali ini. Sebelumnya dia melakukan tour di Bali. Rere berencana akan melakukan tour di 10 kota besar yang dimulai dari Jakarta.

Buku foto ini berisi kisah pilu tentang satwa-satwa dilindungi yang sebentar lagi akan punah, kisah suku pedalaman, kisah tentang berbagai kejahatan hutan dan kebakaran hutan yang menghanguskan beribu-ribu pohon.

Dia bercerita bahwa tak mudah untuk ia menyelesaikan satu buku ini dengan cerita yang runtut. Meskipun ia sudah 12 tahun menjalani profesi sebagai pewarta foto. Proses produksi buku ini dilakukan sendiri, dengan biaya sendiri. Hasil penjualan buku ini sebagian akan juga disumbangkan ke bayi gajah Erin yang buntung belalainya karena perilaku biadab para pemburu jahat.

Bagi Rere buku foto dianggap lebih efektif untuk media kampanye saat ini. Karena demo sudah tak lagi didengar. Kini untuk mengajak gelombang besar demo seperti yang sudah ada itu tidak mudah.

Kesadaran untuk kampanye sadar terhadap hutan dan satwa belum besar di Indonesia. Rere juga menyadari bahwa apa yang dia lakukan saat ini masih kecil, tapi setidaknya ada aksi yang dilakukan.

“Saya melakukan ini karena yang bisa saya lakukan adalah melalui foto dan tulisan,” kata rere.

Rere berangkat dari niat baik untuk kampanye soal penyelamatan harimau dan gajah. Ini adalah buku foto dengan pendanaan dan penerbitan mandiri. Menurutnya sangat sulit untuk mendapatkan bantuan sponsor.

“Produksi satu buku aja itu udah lumayan, aku cuma mampu cetak 100 buku. Buku ini aku jual Rp 380 ribu,” kata Rere

Dalam buku itu lebih banyak elemen visual. Berisi dari kumpulan foto tunggal dan foto cerita. Hal itu dikarenakan minat baca Indonesia masih rendah. Harapannya dengan visual pesan yang disampaikan lebih masif.

“Aku juga lakukan jemput bola ke beberapa kota, agar pesan dalam buku ini lebih masuk,” kata Rere.

Rere menambahkan, dirinya juga mengajak semua orang untuk bergerak, dengan apa yang bisa dilakukan untuk perubahan. Karena ia sadar gerakan ini butuh dukungan banyak orang dan berjaringan. Itulah yang menjadi benang merah dari buku tersebut, sebelum terlambat maka bergerak untuk membuat satu perubahan.

“Ayo gerak, jangan aku aja. Gabisa ditimpalin ke satu orang aja. Pemerintah, aktivis ayolah bareng-bareng, kalo nyalah-nyalahi orang terus waktu kita akan habis,” kata Rere.

Rere menceritakan juga bahwa ia rela korek semua tabungannya. Bahkan hingga kamera kesayangannya. Tapi tekad kuatnya untuk menerbitkan buku foto tersebutlah yang mengalahkan segalanya. Rere juga ingin ada hasil lain dari buku ini.

“Aku sempet bikin donasi untuk Erin, dia bayi gajah (2016) yang terpotong belalainya oleh pemburu. Inilah yang memacu semangatku kalau buku ini harus terbit,” kata Rere.

Rere melanjutkan ceritanya soal kondisi hutan saat ini. Kondisi hutan Indonesia menurutnya saat ini sudah sangat parah. Banyak ranjau yang menjerat. Itulah yang membuat gajah dan harimau terjerat karena perburuan. Harimau banyak diburu karena semua yang ada di tubuhnya itu punya nilai ekonomi. Beda dengan gajah, meskipun gajah juga jadi barang perburuan.

“Kalau orang beli kumisnya harimau itu bisa memikat lawan jenis, itu mitosnya,” kata Rere.

Perburuan ini juga mengancam ekosistem. Karena ada rantai makanan yang terputus sebenarnya.

“Kalau satwa habis, hutan juga habis,” kata Rere.

Ketua Pewarta Foto Indonesia Yogyakarta Oka Hamied yang hadir dalam diskusi itu menanggapi apa yang selama ini Rere lakukan. Sosok rere ini menurutnya adalah sosok fotografer yang lain. Diapunya komitmen terhadap lingkungan.

“Tidak semua foto jurnalis bisa melahirkan buku foto secara konsisten,” kata Oka.

Oka menambahkan bahwa saat ini fotografi berkembang pesat. Tetapi untuk menghasilkan fotografer yang mampu menghasilkan buku foto itu sangat sedikit.

Oka juga berharap bahwa kedepan nantinya lebih banyak fotografer yang membuat karya serupa dengan Rere. Sehingga lebih banyak pesan yang disampaikan. Pun untuk kampanye sosial. []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Khaerul S
A