Akurat Logo

Wakil Gubernur Bali Berharap Puputan Margarana Jadi Inspirasi Generasi Muda

Khaerul S | 20 November 2017, 18:50 WIB
 Wakil Gubernur Bali Berharap Puputan Margarana Jadi Inspirasi Generasi Muda

AKURAT.CO, Untuk mengenang peristiwa perlawanan rakyat Bali terhadap Belanda, Pemerintah Provinsi Bali menggelar Upacara Peringatan ke-71 Puputan Margarana.

Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta mengatakan, perjuangan merebut kemerdekaan dan mendirikan Negara Kesatuan RI membutuhkan persatuan dan kesatuan yang kuat.

Komitmen pejuang pendiri bangsa dan para pahlawan untuk menyatukan bangsa ini melahirkan sikap kepahlawanan dan kesetiakawanan sosial.

"Peringatan Hari Puputan Margarana bukan sekedar ungkapan rasa syukur, tetapi juga sebagai refleksi terhadap keyakinan jati diri bangsa yang bermatabat diinspirasi oleh para pejuang," ujar Ketut Sudikerta di Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana, Tabanan, Senin (20/11).

Peringatan dengan tema “Menggelorakan Jiwa dan Semangat Puputan Margarana sebagai Modal Pembangunan” diharapkan semangat perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa itu menjadi inspirasi generasi penerus bangsa untuk mengisi kemerdekaan.

“Untuk itu generasi muda bangsa memiliki kewajiban meneruskan perjuangan para pejuang agar bangsa Indonesia bisa mewujudkan bangsa yang sejahtera dan makmur. Mari wujudkan semua program pembangunan pusat dengan Nawa Cita-nya, Bali dengan program Bali Mandara-nya dan kabupaten dengan berbagai programnya diharapkan menyatu bersinergi untuk mewujudkan masyarakat sejahtera,” terangnya.

Pada 20 November 1946, Kepala Divisi Sunda Kecil, Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata polisi NICA yang ada di Kota Tabanan.

Beberapa pucuk senjata beserta pelurunya dapat direbut dan seorang komandan polisi NICA ikut bergabung dalam pasukan I Gusti Ngurah Rai.

Pagi-pagi buta tentara Belanda mulai mengadakan pengurungan terhadap Desa Marga dan mulailah terjadi tembak-menembak antara pasukan NICA dengan pasukan I Gusti Ngurah Rai.

Pada pertempuran itu pasukan Belanda banyak yang mati tertembak. Bantuan tentara Belanda yang berada di Bali ditambah pesawat pengebom didatangkan dari Makasar.

Dalam pertempuran yang sengit itu semua anggota pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan.

Di sinilah pasukan Ngurah Rai mengadakan "Puputan" atau perang habis-habisan di Desa Margarana sehingga pasukan yang berjumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk I Gusti Ngurah Rai sendiri.

Sebaliknya, di pihak Belanda ada lebih kurang 400 orang yang tewas. Itulah sepenggal sejarah perang Puputan Margarana, 71 tahun yang silam.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Khaerul S
A