Terserap Program MBG, Peternak di NTT Pasok 4.000 Butir Telur per Hari

AKURAT.CO Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto menjadi berkah tersendiri bagi para peternak lokal.
Manfaat Program MBG salah satunya dirasakan oleh Benediktus Dalupe, peternak telur asal Desa Kadi Pada, Kecamatan Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebelum adanya Program MBG, Benediktus kerap kesulitan memasarkan telurnya. Dia biasanya memasok telur ke penjual retail tapi penjualannya tidak stabil. Selain itu, pembayaran juga tak pasti.
Program MBG mengubah nasib Benediktus. Dalam kurun enam bulan terakhir, dia bisa memasok rata-rata 4.000 butir telur per hari ke dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Tanamanda.
Kegembiraan Benediktus bukan dari situ saja. Dia senang karena bisa ikut berkontribusi memenuhi kebutuhan protein anak-anak di NTT.
Sebelum ada MBG, warga NTT mendapat suplai telur dari luar daerah, terutama Pulau Jawa. Tentu kualitasnya tidak bisa terjaga karena membutuhkan waktu dan perpindahan tempat.
Baca Juga: Presiden Prabowo: Ekonomi Tahun Ini Membaik karena MBG, Dorong Pertumbuhan dari Lapisan Paling Bawah
"Sekarang dengan adanya peternak lokal yang mengembangkan usaha peternakan ayam petelur ini, pertama jaminan nutrisinya terjamin. Tidak ada istilahnya telur busuk. Kemudian, dikonsumsi oleh penerima manfaat MBG juga tentu lebih baik. Artinya, jaminan telur fresh-nya betul-betul kita sediakan," jelas Benediktus, Sabtu (14/2/2026).
Benediktus yang memiliki 6.000 ekor ayam petelur baru bisa menyuplai telur ke satu SPPG secara reguler.
Per pengiriman menyuplai hingga 25 ikat telur atau sekitar 3.600 butir. Pengiriman dilakukan dalam tiga hari per minggu, yakni pada Minggu, Selasa, dan Kamis.
"Peternakan ini saya kembangkan untuk mendukung ketahanan pangan yang menjadi program prioritas dari Presiden Prabowo," kata Benediktus.
Ada sejumlah dapur MBG yang juga meminta pasokan telur ke peternakannya. Namun, dia belum bisa memenuhi permintaan itu karena keterbatasan modal dan karyawan.
"Dengan kondisi saat ini yang SPPG-nya belum banyak pun, kami sudah kewalahan untuk menyuplai. Apalagi nanti kalau SPPG-nya sudah jalan semua di satu Kabupaten Sumba Barat Daya ini," kata Benediktus.
Baca Juga: DPR Minta BPJPH Percepatan Sertifikasi Halal untuk Dukung Program MBG
Ke depan, dia berharap bisa meningkatkan lagi produksi telurnya. Dengan harapan, bisa lebih banyak lagi memasok bahan bagi kebutuhan protein anak-anak penerima MBG.
Dia berencana meningkatkan lagi populasi ayamnya hingga 20 ribu ekor. Dengan begitu, dia berharap mampu memproduksi hingga 18 ribu butir telur per hari. Artinya, dia bisa menyuplai ke enam dapur MBG.
"Makanya kita juga membutuhkan kemudahan akses kredit. Apakah melalui bank-bank Himbara atau dari aspek pihak-pihak lembaga yang lain untuk membantu kita. Karena kita mengembangkan ini tentu butuh biaya yang tidak sedikit," jelas Benediktus.
Menggerakkan Ekonomi Lokal
Menurut Benediktus, program MBG juga memacu peternak lokal lain untuk memuai usaha ayam petelur. Tentu hal ini menjadi kabar gembira karena sebelumnya telur banyak dipasok dari Jawa. Produk menjadi tidak segar karena berbagai faktor, terutama lamanya proses pengiriman.
"Jadi masyarakat selama ini memang membutuhkan telur segar, telur fresh. Dan itu yang belum didapatkan karena mereka mengonsumsi telur dari luar," katanya.
Tingginya permintaan terhadap telur juga menimbulkan efek berantai yang positif. Permintaan jagung yang merupakan pakan utama ayam juga ikut melonjak. Artinya, petani jagung di sekitar kandang ayam mendapat pasar baru. Dan tentu saja membuka lapangan kerja lokal dan menumbuhkan ekonomi desa.
Baca Juga: Presiden Prabowo: MBG Perkuat Ketahanan dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional
"Kita dulu tidak pernah pesan jagung untuk kebutuhan pakan. Sekarang butuh jagung. Jadi, otomatis petani di sekitar juga merasakan dampak," kata Benediktus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








