Akurat Logo

5 Fakta Menarik Jam Gadang, Ikon Sumatra Barat yang Dibangun Tanpa Semen

Swara Setia | 1 Januari 2021, 11:15 WIB
5 Fakta Menarik Jam Gadang, Ikon Sumatra Barat yang Dibangun Tanpa Semen

AKURAT.CO, Jam Gadang adalah salah satu tempat wisata sekaligus ikon Sumatra Barat. Terletak di Bukittinggi, salah satu landmark populer Tanah Air ini tak hanya dikenal di dalam negeri tetapi juga telah dikenal secara internasional. Meski begitu, baru-baru ini tempat pariwisata ini diketahui ditutup sementara untuk menghindari kerumunan ketika malam pergantian tahun.

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO mengumpulkan sejumlah fakta menarik tentang Jam Gadang.

1. Hadiah dari Ratu Belanda

Sejarah Jam Gadang dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Ketika itu, Ratu Belanda memberikan hadiah kepada Rook Maker atau sekretaris yang ketika itu berperan sebagai Controleur daerah Fort de Kock (Bukittinggi). Meski dari pemberian Ratu Belanda, Jam Gadang dibangun oleh hasil rancangan Yazid Rajo Mangkuto, pria asli Minangkabau yang berperan sebagai seorang saudagar.

2. Habiskan biaya hingga 3 ribu gulden

Pembangunan Jam Gadang ini menelan biaya hingga 3.000 gulden atau jika dikonversikan dengan nilai hari ini menjadi sekitar Rp426 juta. Meski begitu, menurut berbagai sumber yang ada, pembangunan gedung yang memiliki luas alas 52 meter persegi dan tinggi mencapai 26 meter ini tidak menggunakan rangka besi atau semen ketika itu. Para pekerja bangunan ini membuatnya dengan campuran putih telur, kapur dan pasir putih.

3. Alami 3 kali perubahan atap

Ketika pertama kali didirikan pada masa pemerintahan Belanda, Jam Gadang memiliki bentuk bulat pada atapnya dengan tambahan patung ayam jantan di atasnya. Setelah itu, atapnya kembali berubah ketika masa pendudukan Jepang. Ketika itu, atapnya diubah berbentuk pagoda. Setelah itu, baru pada masa Indonesia merdeka, Jam Gadang memiliki bentuk atap rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang.

4. Mesin penggerak identik dengan Big Ben

Jam Gadang memang selalu disamakan dengan ikon pusat waktu dunia yang ada di Greenwich, yaitu Big Ben. Selain kerap disamakan, keduanya memang menggunakan mesin yang sama, yaitu Brixlion yang dibuat oleh seorang bangsawan ternama bernama Forman.

Namun, berbeda dengan Big Ben, Jam gadang pernah melewati sejumlah musibah yang mengakibatkan beberapa bagiannya rusak. Salah satunya adalah sebuah gempa bumi berkekuatan 5,8-6,4 skala richter yang mengguncang Sumatra Barat pada tahun 2007 lalu. Akibat gempa ini selain 50 orang meninggal dunia, bandul penggerak Jam Gadang yang dipasang sejak pertama kali didirikan mengalami kerusakan hingga putus.

5. Ditutup sementara

Pemerintah Kota Bukittinggi memutuskan untuk menutup sejumlah tempat pariwisata berbayar dalam beberapa hari. Salah satunya adalah tempat wisata Jam Gadang dan sekitarnya. Bahkan, Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias juga memutuskan untuk menutup bagian atas bangunan yang menjulang tinggi khas adat Minang tersebut dengan menggunakan kain putih. Penutupan tersebut telah berlangsung mulai dari 31 Desember 2020 kemarin dan akan terus dilanjutkan hingga 3 Januari 2021 mendatang. Selain Jam Gadang, jalan masuk hingga taman yang ada di sekitarnya juga ditutup.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.