Nyamuk Ber-Wolbachia Tekan Drastis Kasus DBD di Yogyakarta

AKURAT.CO, Program pengembangbiakan dan penyebaran nyamuk ber-wolbachia di Kota Yogyakarta diklaim mampu menekan kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) cukup drastis. Pengendalian penyakit metode ini kian digencarkan Pemerintah Kota setempat bersama peneliti UGM dan Yayasan Tahija Jakarta.
Coprincipal Investigator World Mosquito program Yogyakarta Riris Andono Ahmad menyebut penelitian oleh pihaknya pekan lalu menunjukkan bahwa Wolbachia efektif menurunkan 77 persen kejadian demam berdarah di daerah intervensi, dibandingkan dengan daerah pembanding. Penelitian sendiri dilangsungkan sejak 2017 silam.
Penelitian dengan cara melepaskan nyamuk Aedes aegypti yang sudah terinfeksi bakteri wolbachia dalam skala besar di Kota Yogyakarta. Penelitian dilakukan di daerah intervensi dibandingkan dengan daerah pembanding.
"Jadi, kan Yogyakarta dulu itu dibagi 24 klaster, 12 wilayah dibagi wolbachia, 12 tidak diberi," kata Riris usai acara 'Rencana Perluasan Manfaat Nyamuk ber-Wolbachia di Kota Yogyakarta' di Kantor Kelurahan Rejowinangun, Kotagede, Rabu (2/9/2020).
Alhasil, sejauh ini ada penurunan 77 persen kasus demam berdarah pada area yang diberi nyamuk ber-wolbachia. Ia mencontohkan, kecamatan Tegalrejo sebagai daerah intervensi dan Kotagede sebagai pembandingnya.
Bakteri wolbachia memiliki kemampuan mengeblok replikasi virus dengue. Manakala nyamuk menghisap darah yang mengandung virus dengue, virus tidak bisa mereplikasi di dalam tubuh nyamuk.
Implikasinya, virus dengue tak dapat ditularkan ke orang lain. Di samping itu, bakteri wolbachia menurun ke generasi berikutnya.
Telur tak akan menetas ketika nyamuk ber-wolbachia kawin dengan nyamuk betina tanpa wolbachia. Berlaku pula jika kedua jenis kelamin nyamuk ber-wolbachia.
Riris menambahkan, sudah ada 12 kecamatan di Yogyakarta yang disebar nyamuk ber-wolbachia. Per hari ini ditambah lagi 2 kecamatan untuk program eliminasi Aedes aegypti.
"Dan kemungkinan kita juga akan melakukan di Sleman," tutup Riris.
Sementara, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi menyebut kejadian DBD di Kota Yogyakarta pada 2016 silam mencapai 1.700an kasus. Pasca kegiatan pengendalian DBD dengan metode wolbachia bersama Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) dan Yayasan Tahija Jakarta, kasus menurun dramatis.
"Tahun kmaren hanya tinggal sekitar 200-300an, jadi turunnya drastis. Harapan kami memang kalau nanti semua wilayah di Kota Yogyakarta sudah ber-wolbachia semua nyamuknya, insyaallah semakin rendah (DBD)," harapnya.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK




