Luis De La Fuente: Perilaku Pemain Argentina Tak Boleh Ditolerir, Tak Bisa Diterima

AKURAT.CO, Pelatih Tim Nasional Spanyol, Luis De La Fuente, akhirnya bicara soal insiden kericuhan antara sejumlah pemain Argentina dengan pemainnya pasca laga final Piala Dunia 2026.
Luis De La Fuente secara tegas menyatakan bahwa perilaku pemain Argentina pada insiden di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026), itu “tidak bisa ditolerir”.
“Saat itu, saya tidak menyadarinya. Saya merayakan (kemenangan), memeluk rekan setim,” ucap Luis De La Fuente dipetik dari The Guardian. “Tetapi dalam hal apapun, itu tidak boleh ditolerir, tidak bisa diterima, tidak boleh diizinkan.”
Insiden dimaksud adalah perseteruan fisik antara pemain Argentina seperti Nahuel Molina dan Leandro Paredes yang menyerang Rodri dan Eric Garcia. Namun, yang paling mencolok adalah Paredes mendorong Pablo Gavi.
“Pemain dengan profil seperti mereka, yang saya puji di hari-hari menuju pertandingan dan terus saya puji, yang merupakan para pemain hebat dengan seorang pelatih hebat, sudah pasti mereka merasa buruk seperti juga kami saat melihat reaksi-reaksi (pasca laga) itu,” kata Luis De La Fuente.
De La Fuente sendiri sukses membawa Spanyol mengalahkan Argentina melalui gol Ferran Torres di menit ke-106. Kemenangan itu membawa Spanyol meraih gelar juara Piala Dunia kedua setelah yang pertama pada 2010.
Perseteruan antar pemain tersebut menyebar luas di media sosial. Pun demikian, sampai saat ini belum ada tindakan yang dikeluarkan otoritas terhadap para pemain terlibat.
FIFA sudah membuka penyelidikan untuk memeriksa peristiwa tersebut. Dengan adegan yang berlangsung secara terbuka di New Jersey akhir pekan itu besar kemungkinan FIFA akan menjatuhkan hukuman kepada pemain terlibat.
Sementara itu, Gavi yang merupakan korban yang paling mencolok atas tindakan Leandro Paredes, justru bersimpati terhadap rivalnya itu. Gelandang Barcelona itu menganggap Paredes tak perlu dihukum larangan bermain.
"Saya tidak berpikir bahwa (Leandro Paredes) harus dihukum larangan bermain," kata Gavi dipetik dari BBC. "Saya paham itu bukan citra yang baik untuk anak-anak, tetapi saya kira itu adalah salah satu sisi sepakbola, yang sedikit lebih fisik, lebih agresif."
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 3KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 6Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 7Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 8Prediksi Sassuolo vs Lazio 28 Oktober 2026: Jay Idzes Absen, Biancocelesti Diunggulkan
- 9KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah
- 10Geledah Kantor Pusat Djarum, KPK Dalami Penyimpangan Penerimaan Cukai Rokok







