Akurat Logo

Emiliano Martinez, Dari Kiper Buangan Menjadi Ikon

Riandar Fata Hudaya | 28 Februari 2023, 12:00 WIB
Emiliano Martinez, Dari Kiper Buangan Menjadi Ikon

AKURAT.CO, Emiliano Martinez bukanlah Gianluigi Buffon, Iker Casillas, atau Manuel Neuer. Namun, ia punya jalannya sendiri untuk menjadi legenda dengan cara yang unik berbeda dari tiga kiper hebat tersebut.

Penobatan Emiliano Martinez sebagai kiper terbaik dalam The Best FIFA Awards 2022 di Salle Pleyel, Paris, Prancis, Senin (27/2), adalah puncak dari keunikan tersebut. Kini, sulit untuk membantah bahwa El Dibu–sapaan Martinez–adalah kiper legendaris yang layak dikenang.

Emiliano Martinez unik karena kiper ini tak punya karier mentereng sebelum ia membawa Argentina menjadi juara Piala Dunia Qatar 2022. Direkrut ke tim junior Arsenal dari Independiente di usia 18 tahun pada 2010, Martinez masuk ke tim utama pada 2012 namun lebih banyak dipinjamkan ke tim kasta bawah.

Kiper berusia 30 tahun ini pernah bermain di Oxford United, Sheffield Wednesday, Rotherham United, dan juga Reading. Namun, ia punya kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia adalah kiper Arsenal ketika membantu tim tersebut menjuarai Piala FA 2019-2020 menggantikan Bernd Leno yang mengalami cedera.

Pada musim panas 2020 Emi Martinez pindah untuk menjadi kiper utama Aston Villa dan di klub itu ia bertransformasi menjadi salah satu kiper ikonik dalam sejarah. Sejak di Villa, Martinez membantu Argentina menjadi juara Piala Amerika 2021, Finalissima 2022, dan Piala Dunia Qatar 2022.

“Berangkat dari kiper nomor dua di Liga Primer ke memenangi Piala Dunia dalam waktu yang singkat adalah jalan yang unik, tetapi ada banyak alasan mengapa Emi menciptakan kebangkitan yang singkat, diawali dengan hasrat dan etos kerjanya,” kata Pelatih Kiper Aston Villa, Neil Cutler, sebagaimana dipetik dari BBC.

Agaknya, perjalanan dari bukan siapa-siapa menjadi legenda mendorong Emiliano Martinez melakukan selebrasi yang kontroversial ketika mendapatkan trofi Kiper Terbaik Piala Dunia Qatar. Namun, Neil Cutler melihatnya dengan cara yang berbeda.

“Orang-orang mengkritik dia karena perilaku antiknya selama adu penalti melawan Prancis, dan kemudian menyebutnya ‘idiot’ ketika dia merayakan trofi Golden Glove, tetapi saya mengenal dia berbeda,” kata Cutler.

“Dia sungguh-sungguh punya empati; seseorang yang bakal melakukan apapun untuk membantu orang di sekitarnya, dan ingin membantu setiap orang untuk menjadi gembira. Di Villa dia selalu menyiapkan (pesta) barbecue dan berusaha membawa skuat dan keluarga mereka Bersama, karena itu penting baginya.”[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.