AKURAT.CO, Sejalan dengan bersedianya enam klub besar Liga Primer Inggris untuk bergabung dengan kejuaraan format baru antar klub di Benua Eropa, European Super League (ESL), perdebatan kini menggelinding. Dua belas klub yang sudah menyatakan diri bergabung dengan gerakan yang kini menghadapi “perang publik”.
Apa sih sebenarnya ESL?
Idenya dimulai pada 1998 ketika rekanan media Italia berencana menggelar kejuaraan Eropa yang diikuti 38 klub dengan sistem klasemen sebagaimana kompetisi domestik.
Dipimpin oleh bos Real Madrid, Florentino Perez, ESL dalam format terbaru terdiri dari 20 klub yang terbagi dalam dua grup di mana setiap grupnya diisi oleh sepuluh tim. Masing-masing klub akan saling berhadapan dalam format tandang-kandang dengan sistem penghitungan poin klasemen.
Dimainkan di tengah pekan, tiga tim teratas di masing-masing grup akan lolos ke perempat final. Sementara dua jatah lain akan diperebutkan oleh tim peringkat empat dan lima melalui play-off.
Perempat final sampai semifinal akan dilangsungkan dua leg sementara partai final hanya digelar satu pertandingan. Seperti juga Liga Champions, final akan dihelat di venue netral.
Dalam skemanya Perez, turnamen ini dihelat untuk mempertemukan tim-tim terbaik yang dianggapnya tak terjadi di Liga Champions. Dengan kata lain, ESL adalah pertandingan untuk tim-tim besar yang berada di papan atas kompetisi domestik masing-masing demi menjamin tim terbaik akan bertanding dengan yang terbaik.
Sejauh ini, 12 klub yang disebut sebagai klub pendiri turnamen terpisah ini adalah Real Madrid, Barcelona, Atletico Madrid, Juventus, AC Milan, Inter Milan, Manchester United, Manchester City, Tottenham Hotspur, Chelsea, Arsenal, dan Liverpool.
Alasan lainnya adalah untuk membuka kemungkinan ekonomi yang lebih luas dengan menawarkan banyak pertandingan berisikan tim-tim besar bersama pemain-pemain besar. Perez mengklaim bahwa ESL justru menjawab gairah miliaran penggemar sepakbola di dunia.
Lalu, mengapa ESL dikritik?
Kritik yang paling menonjol adalah ESL telah menjadi arena bagi segelintir klub-klub besar untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Gelandang Real Madrid dan Tim Nasional Jerman, Toni Kroos, misalnya, menganggap bahwa kejuaraan ini hanya akan memperlebar kesenjangan tim besar dan tim kecil.
FIFA, UEFA, serta beberapa kelompok suporter sejauh ini telah menolak untuk mengakui ESL. Sebagai reaksinya, mereka sudah mengirimkan surat kepada FIFA dan UEFA untuk memberitahu bahwa ESL akan mengambil langkah hukum jika dua lembaga tersebut menghalangi pembentukan kejuaraan mereka.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 5Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 620 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 7Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 8Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja





