Erick Thohir Minta Media Bedakan Perannya sebagai Menpora dan Ketum PSSI
Leo Farhan | 21 Oktober 2025, 14:58 WIB

AKURAT.CO, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan pentingnya memahami batas antara tugasnya sebagai Menpora dan perannya sebagai Ketua Umum PSSI, terutama dalam pembahasan isu-isu sepakbola nasional.
Pernyataan itu disampaikan Erick menanggapi rencana Kemenpora yang akan memanggil seluruh cabang olahraga, termasuk PSSI, untuk membahas target di SEA Games 2025 Thailand,
Pada saat yang sama, Tim Nasional Indonesia U-22 berstatus sebagai juara bertahan setelah meraih emas di Kamboja 2023.
Baca Juga: Tanggapi Dualisme Cabor, Erick Thohir: Jika Januari Belum Ada Keputusan, Kami Akan Ambil Posisi
"Saya (di sini) sebagai Menpora, nanti ada tim verifikasi yang memanggil semua cabang olahraga, termasuk PSSI," kata Erick saat ditemui di kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, Selasa (21/10).
Erick menekankan bahwa meski dirinya juga menjabat sebagai Ketua Umum PSSI, mekanisme administrasi dan sistem kerja antarlembaga harus tetap berjalan sesuai aturan.
"Kalaupun saya juga Ketua PSSI, mekanisme administrasi tetap harus berjalan. Tidak bisa karena saya ketua PSSI kemudian melangkahi sistem yang ada di Kemenpora," tegasnya.
Ia juga meminta insan media untuk lebih memahami perbedaan konteks saat dirinya berbicara sebagai Menpora dan saat berbicara sebagai Ketua Umum PSSI.
"Sebagai Menpora, saya akan bicara mengenai kebijakan besar olahraga. Tetapi kalau nanti ada wawancara sebagai Ketua PSSI, baru saya bicara soal sepakbola," jelas Erick.
Lebih lanjut, Erick menilai sebagian media masih kerap mencampuradukkan dua peran yang dijalankannya. Menurutnya, profesionalitas dan pemahaman terhadap tupoksi (tugas pokok dan fungsi) masing-masing pihak perlu dijaga agar tidak menimbulkan bias dalam pemberitaan.
"Saya bilang, saya di sini sebagai Menpora, nanti itu ada tupoksi-nya sendiri. Jadi, teman-teman belum biasa rupanya. Harus mulai biasa," ujarnya.
Erick juga mengingatkan agar media turut berperan dalam menciptakan ekosistem olahraga nasional yang sehat dengan menyajikan informasi secara berimbang dan konstruktif.
"Teman-teman media juga mesti dewasa. Kan kita tidur di satu rumah. Kita harus saling menghargai, saling menyayangi. Karena kalau kita selalu memecah diri kita, sama saja—kita tidak akan dewasa, dan akhirnya selalu konflik," tegasnya.
Dengan demikian, segala pembahasan terkait sepakbola, termasuk target di SEA Games Thailand 2025, akan tetap dilakukan secara resmi melalui mekanisme Kemenpora.
Erick memastikan bahwa tata kelola olahraga nasional harus berjalan profesional, transparan, dan bebas konflik kepentingan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 2Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 3Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 4FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 5Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 6Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 7Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 8Prediksi Skor Roma vs Inter 19 September 2026: Duel Dua Tim Sempurna di Olimpico
- 9Geledah Rumah Lampri, KPK Sita Bukti Dugaan Aliran Uang
- 10Presiden Prabowo: Saya Tidak Ingin Ada Orang Lapar di Indonesia






