Emiliano Martinez, Dari Kiper Buangan Menjadi Ikon
AKURAT.CO, Emiliano Martinez bukanlah Gianluigi Buffon, Iker Casillas, atau Manuel Neuer. Namun, ia punya jalannya sendiri untuk menjadi legenda dengan cara yang unik berbeda dari tiga kiper hebat tersebut.
Penobatan Emiliano Martinez sebagai kiper terbaik dalam The Best FIFA Awards 2022 di Salle Pleyel, Paris, Prancis, Senin (27/2), adalah puncak dari keunikan tersebut. Kini, sulit untuk membantah bahwa El Dibu–sapaan Martinez–adalah kiper legendaris yang layak dikenang.
Emiliano Martinez unik karena kiper ini tak punya karier mentereng sebelum ia membawa Argentina menjadi juara Piala Dunia Qatar 2022. Direkrut ke tim junior Arsenal dari Independiente di usia 18 tahun pada 2010, Martinez masuk ke tim utama pada 2012 namun lebih banyak dipinjamkan ke tim kasta bawah.
Kiper berusia 30 tahun ini pernah bermain di Oxford United, Sheffield Wednesday, Rotherham United, dan juga Reading. Namun, ia punya kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia adalah kiper Arsenal ketika membantu tim tersebut menjuarai Piala FA 2019-2020 menggantikan Bernd Leno yang mengalami cedera.
Pada musim panas 2020 Emi Martinez pindah untuk menjadi kiper utama Aston Villa dan di klub itu ia bertransformasi menjadi salah satu kiper ikonik dalam sejarah. Sejak di Villa, Martinez membantu Argentina menjadi juara Piala Amerika 2021, Finalissima 2022, dan Piala Dunia Qatar 2022.
“Berangkat dari kiper nomor dua di Liga Primer ke memenangi Piala Dunia dalam waktu yang singkat adalah jalan yang unik, tetapi ada banyak alasan mengapa Emi menciptakan kebangkitan yang singkat, diawali dengan hasrat dan etos kerjanya,” kata Pelatih Kiper Aston Villa, Neil Cutler, sebagaimana dipetik dari BBC.
Agaknya, perjalanan dari bukan siapa-siapa menjadi legenda mendorong Emiliano Martinez melakukan selebrasi yang kontroversial ketika mendapatkan trofi Kiper Terbaik Piala Dunia Qatar. Namun, Neil Cutler melihatnya dengan cara yang berbeda.
“Orang-orang mengkritik dia karena perilaku antiknya selama adu penalti melawan Prancis, dan kemudian menyebutnya ‘idiot’ ketika dia merayakan trofi Golden Glove, tetapi saya mengenal dia berbeda,” kata Cutler.
“Dia sungguh-sungguh punya empati; seseorang yang bakal melakukan apapun untuk membantu orang di sekitarnya, dan ingin membantu setiap orang untuk menjadi gembira. Di Villa dia selalu menyiapkan (pesta) barbecue dan berusaha membawa skuat dan keluarga mereka Bersama, karena itu penting baginya.”[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang




