Taufik Hidayat Sebut Mental Jonatan Christie dan Anthony Ginting Kurang di Olimpiade Paris

AKURAT.CO, Peraih medali emas Olimpiade Athena 2004, Taufik Hidayat, menyebut jika secara fisik dan teknik tidak ada yang kurang dari wakil-wakil Indonesia tersebut di nomor tunggal putra Olimpiade Paris. Namun, Taufik melihat masih ada yang kurang maksimal.
"Memang secara psikis mereka yang berat. Tapi, kalau melihat dari teknik dan fisik terutama untuk tunggal, saya sangat yakin sekali dengan mereka," kata Taufik Hidayat di Pelatnas PBSI, Cipayung, Kamis (15/8).
"Tapi jujur, di lapangan secara mental (kurang), meskipun kita harus bersyukur dan harus mengakui bulutangkis dengan tradisi emasnya, kita tidak maksimal."
Baca Juga: Bagaimana Mood Pelatnas PBSI Cipayung setelah Olimpiade Paris Berlalu tanpa Emas?
Hal ini disampaikan Taufik Hidayat menyusul bulutangkis sebagai salah satu cabor andalan Indonesia untuk meraih medali emas tidak mampu berbicara banyak saat bersaing di Olimpiade Paris 2024.
Tim bulutangkis Indonesia kali ini hanya mampu menyumbangkan satu medali perunggu lewat Gregoria Mariska Tunjung dari sektor tunggal putri.
Sejatinya, sektor tunggal putra dan ganda putra menjadi salah satu sektor yang diprediksi bisa menyumbangkan medali. Namun kedua sektor ini justru tak bisa bergerak jauh.
Bahkan dua wakil di sektor tunggal putra, Jonatan Christie yang notabene unggulan tiga, dan Anthony Sinisuka Ginting yang merupakan unggulan sembilan, gagal melewati fase grup.
Jonatan tersingkir dari Grup L setelah di laga terakhir takluk dari wakil India, Lakshya Sen, lewat straight set (18-21 dan 12-21). Sementara Ginting tersingkir dari grup H setelah di laga terakhir takluk dari wakil tuan rumah, Toma Junior Popov, dengan skor 19-21, 21-17, dan 15-21.
Baca Juga: Jonatan Christie: Saya Pastinya Sangat Menyesal, Tapi Inilah Pertandingan
Taufik Hidayat juga menegaskan bahwa laga olimpiade memang berbeda dengan kejuaraan-kejuaraan bulutangkis lainnya. Pasalnya, hal itu juga yang sempat dialaminya saat turun sebagai unggulan pertama di Olimpiade sydney 2000.
Saat itu Taufik datang dengan peringkat satu dunia, masih muda, baru berusia 19 tahun. Bahkan sebelum Olimpiade dia sempat meraih gelar juara yang membuat masyarakat Indonesia mengharapkan dirinya bisa membawa pulang medali Olimpiade.
Tetapi yang terjadi, dia harus takluk di babak perempat final dari lawan yang sebelumnya dikalahkan di ajang Thomas Cup. Namun, Taufik bisa memaksimalkan pengalamannya tersebut dengan meraih medali emas empat tahun kemudian di Atena.
"Pertandingan biasa (BWF World Tour) dan Olimpiade itu beda ya. Kita melihat kemarin, seorang (Novak) Djokovic saja baru kemarin juara setelah melalui beberapa Olimpiade," jelas Taufik.
"Kalau ibarat persiapan 1-10, kami ini di luar sudah menyiapkan 1-9 nya. Nah, yang kesepuluhnya ini dari pemain di dalam lapangan."
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit







