Akurat Logo

Mengenang "Gemuruh dalam Rimba" Ali dan Foreman

Riandar Fata Hudaya | 30 Oktober 2018, 17:39 WIB
Mengenang "Gemuruh dalam Rimba" Ali dan Foreman

AKURAT.CO, Ibukota Zaire, Kinshasha, tepat pada 30 Oktober 44 tahun lalu menjadi pusat perhatian dunia melalui sebuah pertandingan tinju. Di negara yang kini dikenal dengan Republik Demokratik Kongo itu, petinju legendaris Muhammad Ali merebut kembali gelar juara WBA, WBC, The Ring, dan gelar unifikasi kelas berat yang terlepas dari tangannya empat tahun sebelumnya.

Dunia mengenang pertarungan delapan ronde pada 30 Oktober 1974 di Stadion 20 Mei (kini Stadion Tata Raphael) itu dengan julukan The Rumble in the Jungle (Gemuruh di dalam Rimba).

Julukan ini diberikan untuk mengganti kalimat awal yang digunakan oleh promotor Don King: From the Slave Ship to the Championship (Dari Kapal Budak Menuju Gelar Juara). Presiden Zaire kala itu, Mobutu Sese Seko, adalah yang mengusulkan untuk mengganti judul tersebut.

Pertarungan ini dianggap sebagai perhelatan olahraga yang terbesar sepanjang abad ke-20 bukan saja karena Ali kembali ke gelar juara di usia 32 tahun menghadapi petinju tak terkalahkan George Foreman yang kala itu berusia 25 tahun, namun juga karena digelar di Afrika untuk merayakan kemenangan kulit hitam seiring sejarah perbudakan.

“Saya ingin memantapkan hubungan antara kulit hitam Amerika dan Afrika,” kata Ali dalam memoarnya beberapa tahun kemudian.

“Pertarungan itu tentang masalah rasial, (Perang) Vietnam, semuanya tentang itu. ‘Gemuruh di dalam Rimba’ adalah sebuah pertarungan yang membuat seluruh negeri menjadi semakin sadar.”

Salah satu yang membuat pertarungan ini menjadi monumental adalah karena faktor penyiaran media. Di masa itu, pertarungan ini diperkirakan disaksikan oleh sekitar satu miliar penonton di seluruh dunia.

Jumlah itu termasuk 50 juta penonton yang menyaksikan dengan sistem bayar per nonton (pay per view). Sementara itu, keuntungan yang diraih mencapai 100 juta Dollar AS (menjadi 500 juta Dollar AS mengikuti inflasi saat ini).

Pamflet Pertarungan George Foreman versus Muhammad. REUTERS.

Ali menjadi tokoh terbesar bukan saja karena petinju Amerika Serikat itu adalah pemenang, namun karena ia merebut kembali gelar yang hilang dari tangannya setelah dikalahkan Joe Frazier dalam pertarungan 15 ronde di New York City, Amerika Serikat, tiga tahun sebelumnya.

Juga karena posisinya yang keras menentang Perang Vietnam saat ia menolak untuk turut dalam wajib militer pada 1967. Gemuruh di dalam Rimba tak pelak adalah kemenangan Ali yang dilihat sebagai simbol kemenangan kemanusiaan dalam sejarah perbudakan.

Presiden Zaire, Mobutu Sese Seko, bahkan menyumbang lima juta Dollar AS untuk masing-masing petarung dengan harapan laga itu bisa menyedot perhatian dunia. Di Stadion sendiri, baku hantam antara Ali dan Foreman disaksikan sekitar 30 ribu penonton.

Untuk merayakan laga ini, sejumlah musisi kulit hitam kenamaan turut bermain di Kinsasha. Di antaranya adalah James Brown, Celia Cruz, BB King, dan Fania All-Stars.

Ali memenangi pertarungan dengan memukul K.O Foreman dengan taktik yang dikenal dengan istilah rope-a-dope. Taktik ini digunakan dengan cara membuat diri terperangkap dan bersandar ke tali ring untuk mengalahkan lawan.

Setelah pertarungan tersebut, Ali dan Foreman menjadi sahabat. Keduanya muncul saat menerima Piala Oscar 1996 untuk film dokumenter tentang pertarungan mereka berjudul When We Were Kings. Foreman bahkan membantu Ali naik ke panggung untuk menerima trofi karena saat itu Ali mengidap parkinson.

Ali akhirnya meninggal dunia pada 3 Juni 2016 di Scottsdale, Arizona, Amerika Serikat, karena sakit sistem pernapasan. Sementara itu, Foreman, 69 tahun, kini adalah seorang pemilik pertanian dan perusahaan pemanggang roti, George Foreman Grill.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.