Akurat Logo

12 Filosofi Hidup Orang Jepang Yang Patut Ditiru, Buat Hati Lebih Tenang

| 12 Mei 2023, 01:00 WIB
12 Filosofi Hidup Orang Jepang Yang Patut Ditiru, Buat Hati Lebih Tenang

AKURAT.CO Orang Jepang dikenal sebagai masyarakat yang menerapkan hidup disipin, sederhana dan bermakna. Filosofi hidup orang Jepang yang dijadikan prinsip kehidupan memiliki nilai etika, moralitas dan sebagainya.

Banyak juga filosofi mereka yang akhirnya berkembang di negara-negara lain. 

Selain terkenal dengan masyarakatnya yang disiplin, Jepang juga dikenal dengan perkembangan dan kemajuannya di bidang teknologi dan trasportasi.

Dibalik modern dan majunya negara jepang, masih banyak orang Jepang menganut filosofi tradisional yang telah dilaksanakan secara turun-temurun.

Salah satu filosofi hidup orang Jepang yang terkenal adalah ikigai, sebuah penerapan nilai-nilai sebagai tujuan hidup. Selain diaplikasikan dalam keseharian, konsep tersebut juga cocok diaplikasikan dalam dunia pekerjaan.

Masih banyak filosofi hidup orang Jepang lainnya yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, beberapa pola pikir tersebut dapat membantu untuk dijalani saat ini.

Filosofi hidup orang Jepang

Dikutip dari berbagai sumber, Kamis (11/5/2023), berikut filosofi hidup orang Jepang beserta penjelasannya:

1. Ikigai

Kata ikigai berasal dari kata “iki” yang berarti kehidupan dan “gai” yang berarti nilai. Hal ini berarti “the purpose of life” atau tujuan hidup. Prinsip tersebut dipegang orang Jepang sehingga hidupnya jadi lebih bermakna, berharga dan seimbang.

Secara singkat, ikigai merupakan sebuah filosofi yang bermakna “carilah makna dan tujuan hidup kamu”. Konsep ini harus muncul dari keinginan diri sendiri dan menjadi sesuatu yang disukai dan dikuasai. 

Ikigai terdiri dari 4 elemen, yaitu:

  • Apa yang kamu cintai
  • Apa yang kamu kuasai
  • Apa yang dunia butuhkan
  • Apa yang membuat kamu bisa dibayar

Dengan mengetahui tujuan hidup, maka seseorang menjadi lebih teratur. Orang Jepang percaya bahwa setiap orang memiliki Ikigai mereka sendiri dan menganggapnya sebagai perjalanan penting untuk membawa kepuasan dan makna hidup. 

2. Oubaitori

Oubaitori mengandung arti “jangan pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain”, dengan kata lain bermakna untuk terus bersyukur. 

Filosofi hidup orang Jepang ini mengacu dari empat karakter kanji, yaitu buah ceri, plum, persik dan aprikot yang melambangkan perbedaan cara berkembangnya setiap pohon. 

Hal tersebut memiliki makna bahwa setiap individu memiliki keistimewaan masing masing yang mungkin tidak dimiliki individu lain, jadi tidak perlu membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain.

3. Kaizen

Kaizen dalam bahasa Jepang berarti perbaikan terus-menerus atau perubahan menjadi lebih baik, merupakan filosofi pribadi dan bisnis yang berusaha untuk terus meningkatkan efisiensi dan efektivitas di semua tingkat hidup. Seruan singkat dari filosofi ini adalah “berkembanglah secara konsisten”.

Pola pikir tersebut merupakan metode untuk melakukan perbaikan terus-menerus secara bertahap dan membuat perubahan kecil menjadi lebih baik dan menghargai prosesnya. 

Saat ini, kaizen telah menjadi konsep yang menanamkan kebiasaan yang diinginkan, meningkatkan efisiensi dan fungsionalitas dalam kehidupan pribadi sendiri. 

Mereka berupaya untuk mencapai perubahan kecil dan bertahap dalam proses untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas.

4. Wabi-Sabi

Wabi-Sabi mengandung makna “menerima kesalahan dan menghargai ketidaksempurnaan”. Keindahan yang ada di dalam sesuatu tidak kekal dan tidak sempurna.

Dalam pengertian sederhana, pola pikir wabi-sabi menerima kekurangan diri sendiri dan orang lain dengan murah hati. 

Filosofi ini dapat membantu seseorang untuk mensyukuri dan menghargai apa yang dimiliki dan menjadi penawar perilaku konsumtif yang sering dilakukan.

5. Mottainai

Konsep “jangan hidup boros” pada filosofi mottainai berarti memahami bahwa segala sesuatu yang dimiliki dan di alam tidak untuk digunakan secara boros.

Makna filosofi hidup orang Jepang ini mengacu pada menghormati dan mengakui nilai sumber daya dengan demikian tidak menyia-nyiakannya dan mengarah pada gagasan tentang reducing, reusing and recycling.

6. Kintsugi

Praktik kintsugi berasal dari konsep wabi-sabi dimana ketidaksempurnaan dianggap mengagumkan. 

Kintsugi merupakan kesenian Jepang yaitu teknik merekatkan kembali keramik yang telah pecah menggunakan pernis berwarna emas, sehingga keramik yang tidak berguna dapat menjadi keramik yang lebih mahal nilai jualnya.

Jika diibaratkan seperti manusia, kintsugi adalah sikap yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah.

Masalah-masalah yang muncul dan hadapi secara bijaksana layaknya emas yang merekatkan kembali keramik. 

Retakan-retakkan tersebut membentuk karakter yang membuat nilai diri bertambah dibanding yang sebelumnya.

Masalah bukan selalu tentang kegagalan dan tidak berguna, justru dengan menghadapi masalah seseorang sedang membentuk diri menjadi lebih tangguh, lebih baik dan lebih berkarakter. 

7. Gaman

Filosofi gaman mengacu pada kesabaran, ketekunan dan toleransi. Individu yang menggunakan pola pikir ini akan bertahan dalam situasi sulit dengan pengendalian diri dan martabat. 

Gaman adalah strategi untuk tetap ulet dan sabar selama masa-masa sulit dan merupakan ciri kematangan emosi.

Seseorang menunjukkan kesabaran dan ketekunan menghadapi situasi sulit dan tak terduga yang datang. 

Melewati masa-masa sulit dengan konsep ini akan membantu seseorang untuk mencapai kedewasaan, seperti saat seseorang bertahan dalam pekerjaan yang tidak menyenangkan demi masa depan yang ingin dicapai.

8. Shikata ga nai

Shikata ga nai frase dalam bahasa Jepang yang berarti "tidak dapat berbuat apa-apa" atau "tidak ada lagi yang bisa dilakukan". Menerima dan merelakan karena tidak ada yang dapat dilakukan pada sesuatu yang sudah terjadi.

Konsep ini mengacu pada menerima segala sesuatu yang tidak dapat diubah, merelakannya dan melangkah maju. 

9. Yuugen

Filosofi hidup orang Jepang 'Yuugen' diterjemahkan sebagai "kedalaman misterius" yang mengacu pada kesadaran mendalam terhadap keindahan alam semesta dan hal tersebut bahkan tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata.

Istilah ini memiliki arti melihat sebuah keindahan yang tidak terlihat. Setiap individu dapat merasakan nilai estetika pada suatu objek atau makhluk, bahkan dapat menemukan kehalusan dan kesulitan sebagai keindahan dalam dirinya sendiri. 

10. Mono no aware

Mono no aware yang memiliki makna "kesedihan" sekaligus memiliki empati terhadap hal-hal yang cepat berlalu.

Individu yang menerapkan prinsip ini memiliki kesadaran akan ketidakkekalan dan perasaan sentimen seperti kesedihan. Perasaan tersebut muncul secara tiba-tiba dari merasakan, melihat dan mendengar sesuatu.

Filosofi hidup orang Jepang ini merupakan konsep kesadaran bahwa segala sesuatu yang ada dalam kehidupan kita hanya bersifat sementara seperi masa muda yang cepat berlalu, romantisme yang memudar hingga pergantian musim. Tidak boleh disesali, tetapi disayangi dan sangat dihargai.

11. Soshin

Soshin merupakan seubah filosofi yang menggagas seseorang untuk memiliki sebuah pikiran pemula. 

Para pemula tentu adalah mereka yang pikirannya masih belum mengerti dan butuh belajar banyak hal, sehingga dengan filosofi ini seseorang tidak merasa bahwa dirinya sudah mengetahui segala hal.

Dengan memiliki pikiran pemula, menjadikan seseorang lebih terbuka dan mau belajar lagi dan lagi, sehingga invensi dan inovasi dapat tercipta. 

12. Uketamo

Uketamo berarti menerima dengan rendah hati dan hati terbuka. Semakin cepat bisa menerima hal baik dan buruk di kehidupan, maka akan semakin ringan perasaan yang dialami. 

Dekimian filosofi hidup orang Jepang yang bisa diterapkan secara perlahan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pola pikir yang ada pada setiap prinsip filosofi tersebut bisa membantu seseorang untuk melakukan self healing dan membuat terbebas dari stres.

Semoga bermanfaat dan kita semua dalam keadaan baik-baik saja menjalani kehidupan ini yang penuh misteri serta teka-teki. []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.