Akurat Logo

RI Bakal Setop Ekspor Bahan Mentah, Jokowi Tegaskan Tidak Takut Digugat Uni Eropa

| 11 Maret 2022, 17:55 WIB
RI Bakal Setop Ekspor Bahan Mentah, Jokowi Tegaskan Tidak Takut Digugat Uni Eropa

AKURAT.CO, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa pemerintah berupaya terus meningkatkan nilai tambah produk ekspor Indonesia. Hal itu dilakukan dengan menghentikan ekspor raw material atau bahan mentah seperti nikel, bauksit, tembaga dan emas ke luar negeri.

Jokowi menambahkan bahwa sejak 2020 dirinya telah menyampaikan kepada seluruh kementerian untuk mulai berhenti mengekspor bahan mentah ke luar negeri. Namun, ketika Indonesia memutuskan menyetop ekspor bahan mentah justru digugat Uni Eropa.

“Begitu kita bilang setop nikel, setop ekspor bahan mentah nikel ya kita digugat sama Uni Eropa, belum rampung sampai sekarang, gapapa. Ini belum rampung saya sudah perintah bauksit tahun ini setop (ekspor), biar digugat lagi,” ujar Jokowi dalam Sidang Terbuka Senat Akademik Dies Natalis ke-46 UNS secara virtual, Jumat (11/3/2022).

“Bauksit stop tahun depan setop lagi tembaga atau timahnya, biar digugat lagi, gapapa digugatin terus. Belum tentu kita kalah. Tapi belum tentu juga kita menang. Tapi keberanian itu harus kita lakukan. Kalau kita enggak pernah mencoba, kita enggak akan tahu kita menang atau kalah, kita benar atau enggak benar. Tapi yang ini benar, setop (ekspor bahan mentah) ini benar,” tegas Jokowi diiringi tepuk tangan peserta.

Kepala Negara itu juga menjelaskan ketika pemerintah mengekspor nikel pada 7 tahun lalu, Indonesia meraup pendapatan USD1,5 miliar atau sekitar Rp20 triliun. Namun ketika barang mentah diubah menjadi barang setengah jadi dan barang jadi, Indonesia mendapat USD20,8 miliar atau sekitar Rp300 triliun.

“Betapa kalau ini satu persatu kita memiliki keberanian untuk bilang setop, munculnya angka-angka yang tadi saya sampaikan, membuka lapangan kerja itu yang paling penting," lanjutnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menambahkan bahwa dengan menyetop ekspor barang mentah, pendapatan negara baik dari sektor pajak maupun pendapatan negara bukan pajak (PNBP).

Selain itu, tambah dia, dengan menyetop ekspor bahan mentah, investasi yang masuk ke dalam negeri akan meningkat, serta capital inflow yang akan menghasilkan nilai tambah bagi negara.

“Dan barang-barang seperti lithium baterai, EB baterai, kendaraan listrik, sodium ion, semi konduktor, semuanya akan diproduksi di dalam negeri. Karena bahan bakunya kita setop,” ucapnya.

Lebih lanjut mantan Walikota Solo ini menambahkan upaya membatasi ekspor bahan mentah ini juga disampaikan dalam Forum G20 di Itali tahun lalu. Kata dia, Indonesia membuka peluang yang luas bagi para produsen untuk berinvestasi.

Ia juga menawarkan investor untuk bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perusahaan swasta nasional dan atau mendirikan usaha mandiri asalkan dilakukan di Indonesia.

“Enak banget, kita setorin mereka bahan bakunya, nilai tambahnya bisa 14-20 kali lipat kalau kita hanya setor raw material. Pajak mereka yang dapat, lapangan kerja mereka yang dapat, terus kita dapat apa?. Kita ditakut-takuti terus. Tak gugat di WTO, tak gugat di WTO, gugat lah," tukasnya.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.