Waketum Gerindra Sayangkan Kelakuan Gus Miftah, Usul untuk Dievaluasi Sebagai Utusan Khusus Presiden

AKURAT.CO Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Budi Djiwandono, menyampaikan keprihatinannya atas candaan Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah yang dinilai menghina seorang pedagang es asongan saat memberikan ceramah di depan umum.
Budi, yang juga keponakan Presiden Prabowo Subianto, menilai tindakan tersebut tidak mencerminkan sikap seorang pemimpin, terlebih Miftah saat ini menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden. Ia bahkan mengusulkan agar jabatan Miftah dievaluasi.
“Ya, kita menyayangkan jika ada pernyataan yang tidak baik, terutama dari seorang pemimpin. Tentu itu patut menjadi evaluasi,” ujar Budi yang juga Anggota DPR RI, kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/12/2024).
Baca Juga: Gus Miftah Belum Laporkan Harta Kekayaannya ke KPK
Namun demikian, Budi menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada pihak yang berwenang. Ia juga mengapresiasi kritik masyarakat terhadap isu tersebut.
“Tapi apapun itu, kita serahkan keputusan-keputusan kalau ada, dan kita terima sebagai masukan serta kritik yang baik dari masyarakat. Saya kira itu hal yang wajar,” lanjutnya.
Pernyataan Budi merespons video ceramah Gus Miftah yang viral di media sosial. Dalam video berdurasi 2 menit 19 detik itu, Miftah tampak sedang berceramah di acara Magelang Bersholawat.
Seorang jamaah tiba-tiba meminta Miftah untuk membeli dagangan seorang pedagang es teh yang berada di antara kerumunan.
Merespons permintaan tersebut, Miftah bertanya kepada pedagang itu, “Es tehmu sih akeh nggak? Ya kono didol gob*k (Es teh kamu masih banyak tidak? Ya segera dijual sana, gob*k),” ucapnya, yang disambut gelak tawa jamaah di sekitarnya.
Setelah itu, Miftah melanjutkan ceramahnya dengan menceritakan kisah tasawuf tentang doa pedagang es teh dan bakso.
Baca Juga: Gen Z Harus Tahu Tentang Doomscrolling: Apa Itu dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental
Ia menjelaskan bagaimana doa yang dikabulkan bisa memiliki arti berbeda, termasuk dalam konteks rezeki dan nikmat kehidupan.
Candaan tersebut menuai kritik tajam dari publik. Banyak yang menilai bahwa ucapan tersebut tidak pantas diucapkan, terlebih oleh seorang pemimpin agama yang juga menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden.
Beberapa pihak, termasuk dari Partai Gerindra, menyerukan agar Miftah melakukan introspeksi dan mempertimbangkan permohonan maaf secara terbuka.
Usulan evaluasi terhadap jabatan Miftah juga mencuat, mengingat peran seorang Utusan Khusus Presiden yang seharusnya menjadi teladan.
Hingga berita ini diturunkan, Gus Miftah telah menyampaikan permohonan maaf atas ucapannya dan berjanji akan lebih berhati-hati dalam berbicara di masa mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat









