Akurat Logo

Setuju Istilah Manipulator Agama, TIDI: Semua Pihak Harus Konsisten Lawanan Radikalisme sebagai Kenyataan Politik

Khaerul S | 2 November 2019, 11:05 WIB
Setuju Istilah Manipulator Agama, TIDI: Semua Pihak Harus Konsisten Lawanan Radikalisme sebagai Kenyataan Politik

AKURAT.CO, Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) Arya Sandhiyudha setuju dengan usulan Presiden Jokowi untuk menggunakan 'Manipulator Agama' sebagai ganti istilah Radikalisme.

Namun, yang terpenting semua pihak harus mau menjaga Pancasila dan konsisten menentang radikalisme.

"Konsistensi kita sendiri dalam melawan radikalisme musti dasarnya keseriusan dan kepandaian. Benar-benar fokus menghadapi radikalisme sebagai 'kenyataan politik', bukan 'komoditas politik'. Sebab kalau salah, justru bisa back fire terhadap Pemerintah dan menciptakan ill-feel di masyarakat," kata Arya kepada AKURAT.CO, Jakarta, Sabtu (2/11/2019).

"Jadi kalau tiba-tiba diganti istilah 'Manipulator Agama' jangan hanya Manipulator Agama. Sebab itu terkesan yang sebenarnya dilawan bukan Radikalisme dalam semua tipe yang merupakan 'kenyataan politik', tapi simply bisa terkesan tujuannya hanya untuk 'komoditas politik', menyiptakan ketakutan terhadap lawan yang dibesarkan sendiri secara imajinasi," tambah Arya.

Menurur Arya penerima Master bidang Studi Strategis dari Rajaratnam School of International Studies RSIS Nanyang Technological University NTU ini menuturkan, radikalisme memikiki tipe yang banyak, bukan hanya Radikalisme keyakinan keagamaan, banyak tipe lain yang juga berdasarkan motifnya. Radikalis kanan di Amerika Serikat (AS) misalnya itu identik oposisi/ kontra terhadap sosialis, komunis, marxis, anarkis, demsos, progresif, liberalis.

Sementara, ada Radikalis kanan yang awalnya di Eropa, dikenal dengan ciri ekstrimis nasionalis, nativis ideologis, dan cenderung pada pendekatan otoritarian yakni secara praktik mereka mengambil bentuk sebagai fasis, Nazi, ultranationalis, chauvinis, xenophobik serba anti pendatang, rasis dan lain-lain.

"Apabila demikian yang dibayangkan tentang Radikalisme, jadi lebih utuh sebagai 'kenyataan politik' dan kelihatan serius jaga Pancasila untuk menjaga keseimbangan fakta keragaman spektrum Kita. Jangan dipersempit dengan imajinasi tunggal: Manipulator Agama saja. Itu 'komoditas politik' namanya," ujar Doktor lulusan Turki ini.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Khaerul S
A