Akurat Logo

Ditetapkan UNESCO Sebagai Warisan Budaya Dunia, Inilah Sejarah Sumbu Filosofi Yogyakarta

Shalli Syartiqa | 29 Desember 2023, 10:05 WIB
Ditetapkan UNESCO Sebagai Warisan Budaya Dunia, Inilah Sejarah Sumbu Filosofi Yogyakarta

 

AKURAT.CO D.I.Yogyakarta akhirnya secara resmi menerima sertifikat penunjukan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai warisan dunia UNESCO dengan judul lengkap The Cosmological Axis of Yogyakarta and its Historic Landmarks.

Penetapan ini menegaskan bahwa sumbu filosofi tersebut diakui sebagai bagian dari warisan budaya.

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, secara langsung menyerahkan sertifikat penunjukan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai warisan dunia UNESCO kepada Gubernur D.I.Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kamis (28/12/2023).

Dikutip dari berbagai sumber, Jumat (29/12/2023), berikut sejarah dari Sumbu Filosofis Yogyakarta.

Sejarah Sumbu Filosofi Yogyakarta

Sumbu filosofi Yogyakarta alias tugu Jogja didirikan pada tahun 1755 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, setahun setelah pendirian Keraton Yogyakarta.

Kehadiran Tugu Jogja memiliki makna simbolis sebagai panduan arah bagi Sultan ketika bermeditasi menghadap Gunung Merapi.

Oleh karena itu, pembangunan tugu ini mengikuti garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu, Keraton, dan Laut Selatan.

Pada awal pembangunan, struktur tugu terdiri dari tiang berbentuk silinder (gilig) yang menyempit ke atas. Puncaknya berbentuk bulat (solong) dengan tinggi 25 meter, dikenal sebagai Golong Gilig yang mencerminkan konsep Manunggaling Kawula Gusti (pemersatu rakyat dan penguasa).

Tugu Jogja berfungsi sebagai simbol semangat persatuan melawan penjajah pada masa itu, seperti yang diungkapkan oleh Dinas Pariwisata Kota Jogja.

Namun pada 10 Juni 1867, gempa bumi menghantam Yogyakarta dan meruntuhkan Tugu Jogja. Kerusakan ini menyebabkan hilangnya makna persatuan dalam struktur tugu.

Pada tahun 1889, pemerintah Belanda melakukan renovasi pada bangunan Tugu.

Struktur Tugu diubah menjadi bentuk persegi dengan ukiran di setiap sisinya seperti prasasti yang mencantumkan mereka yang terlibat.

Puncak Tugu tidak lagi berbentuk bulat, dan tinggi Tugu juga dipangkas hingga setinggi 15 meter.

Tugu Golong Gilig kemudian berganti nama menjadi De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.

Renovasi ini merupakan upaya pemerintah Belanda untuk merusak persatuan antara rakyat dan raja. Namun, upaya ini disadari dan digagalkan oleh rakyat Jogja.

Tugu Pal Putih diresmikan oleh Sri Sultan HB VII pada 3 Oktober 1889.

Tugu Jogja memiliki ciri khas dengan berbagai simbol seperti kering (Hasta Karya), panah, daun "waru", daun loto, bentuk praba, bintang sudut enam, deretan titik dan wajik bentuk air tetes.

Selain itu, puncak Tugu Jogja memiliki bentuk spiral yang unik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.