Perjalanan Panjang Imam Hambali; Sang Ahli Fikih dan Penyelamat Umat Nabi Muhammad dari Kesesatan

AKURAT.CO, Empat imam mazhab yang dikenal di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah memiliki keistimewaannya masing-masing dan saling melengkapi. Imam Hanafi dikenal sebagai ulama yang memelopori ilmu fikih dan membangun dasar-dasar mempelajari fikih. Imam Maliki dikenal sebagai ulama besar ahli hadis yang pertama kali membukukan hadis-hadis Nabi saw.
Lalu kemudian Imam Syafi'i adalah ulama besar yang membangun rumus ilmu ushul fikih, yaitu sebuah rumusan yang membangun ilmu fikih itu sendiri. Kemudian yang terakhir adalah Imam Hambali yang merupakan seorang ulama ahli fikih dan ahli hadis pada zamannya.
Kali ini, kita akan membahas nama imam yang terakhir tersebut, Imam Hambali. Sang ahli hadis ini dikenal pula dengan nama Ahmad bin Hanbal. Beliau lahir di ibu kota masa kekhalifahan Dinasti Abbasiyah di Baghdad, Irak tahun 164 H/780 M.
Menurut Imam Ibnu al-Atsir, “Tidak ada di kalangan Arab, rumah yang lebih terhormat, yang ramah terhadap tetangganya, dan berakhlak mulia, daripada keluarga Syaiban.”
Adapun yang dimaksud keluarga Syaiban adalah nasab keturunannya Imam Hambali yaitu dari Abu Abdillah, Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani.
Keilmuan Imam Hambali secara umum dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang kuat dan kondusif. Saat itu, Kota Baghdad merupakan pusat kota Dinasti Abbasiyah, tempat di mana ilmu pengetahuan berkembang pesat.
Lingkungan keluarga Imam Hambali (keluarga Syaiban) juga memiliki tradisi menjadi orang besar, maka tidak mengherankan jika Imam Ahmad memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi seorang ulama yang besar pula.
Kemampuannya sebagai seorang ahli ilmu sudah ditunjukkan sejak dirinya masih berusia belia. Imam Hambali mampu menghafal Al-Qur'an ketika usianya baru 10 tahun meski saat itu kehidupan ekonominya begitu sederhana.
Imam Hambali bahkan harus ditinggal ayahnya menghadap Yang Maha Kuasa sehingga dirinya harus bekerja menjadi tukang pos sembari tetap mempelajari ilmu pengetahuan dari ulama-ulama di Baghdad.
Guru pertama Imam Hambali ketika masih muda adalah murid senior dari Imam Hanafi yakni Abu Yusuf Al-Qadhi. Dari situlah beliau mempelajari dasar-dasar ilmu fikih, kaidah-kaidah ijtihad, serta metodologi qiyas dari Abu Yusuf Al-Qadhi. Barulah setelah itu Imam Hambali melanjutkan pengembaraan ilmunya kepada seorang ahli hadis di Baghdad, Haitsam bin Bishr.
Perjalanannya pun dilanjutkan ke kota-kota di luar Baghdad seperti Mekkah, Madinah, Suriah, dan Yaman. Ketika itulah beliau kemudian berjumpa dan berguru kepada Imam Syafi'i tentang hadis dan sesuatu yang lebih mendalam dari ilmu fikih.
Singkat cerita, Imam Hambali yang belajar ilmu agama di berbagai tempat akhirnya mampu memiliki pendapat tersendiri dalam ilmu fikih. Hingga akhirnya, Imam Hambali menjadi seorang ahli hadis sekaligus ahli fikih yang banyak dikunjungi oleh para pencari ilmu dari berbagai penjuru negeri Islam.
Dengan ketenaran yang beliau raih, tidak membuat Imam Hambali terlena dan hidup dalam kemewahan. Bahkan Abu Dawud berkata, “Majelis Imam Ahmad adalah majelis akhirat. Tidak pernah sedikit pun disebutkan perkara dunia di dalamnya. Dan aku sama sekali tidak pernah melihat Ahmad bin Hanbal menyebut perkara dunia.”
Kesederhanaan dan keahliannya dalam ilmu pengetahuan itu pula yang membuat Imam Ahmad bin Hanbal disebut-sebut sebagai penyelamat umat Nabi Muhammad saw untuk kedua kalinya setelah Abu Bakar menyelematkan akidah umat pasca wafatnya Rasulullah, saat keyakinan sesat khalqu Al-Qur'an mulai dilazimkan.
Imam Ahmad bin Hanbal wafat di kota kelahirannya Baghdad pada tahun 855 M. Menurut Banan bin Ahmad Al-Qashbani yang menghadiri pemakamannya bercerita, “Jumlah laki-laki yang mengantarkan jenazah Imam Ahmad mencapai 800.000 orang dan 60.000 lainnya adalah perempuan.”
Hal tersebut membuktikan bahwa Imam Hambali adalah ulama besar yang mewarisi ilmu pengetahuan yang sangat berpengaruh di dunia Islam. Bahkan, meski secara historis Mazhab Hambali adalah mazhab termuda dari keempat mazhab yang ada, banyak ulama besar sepanjang sejarah Islam yang sangat terpengaruh olehnya seperti Syekh Abdul Qadir Jailani, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Ibnu Katsir, dan Muhammad bin Abdul Wahhab.
Wallahu a'lam.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK



