Esther Duflo, Raih Nobel Ekonomi Karena Penelitiannya Tentang SD Inpres Indonesia

AKURAT.CO, Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia (Royal Swedish Academy of Science/RSAS) telah menyerahkan penghargaan Nobel Ekonomi 2019 kepada Abhijit Banerjee, Esther Duflo, dan Michael Kremer. Ketiganya dianugerahi nobel atas penelitian untuk mengurangi tingkat kemiskinan global.
Namun dari ketiga pemenang tersebut, Esther Duflo merupakan wanita kedua dan juga orang termuda peraih nobel ekonomi sejak 50 tahun terakhir.
Wanita berusia 46 tahun itu ternyata melakukan penelitian mengenai dampak pembangunan SD Inpres di Indonesia terhadap pendidikan dan pendapatan masyarakat.
Judul penelitiannya, yakni schooling and labor market consequences of school construction in Indonesia: evidence from an unusual policy experiment (konsekuensi sekolah dan pasar tenaga kerja dari pembangunan sekolah di Indonesia bukti dari eksperimen kebijakan yang tidak biasa) dan diterbitkan pada Agustus 2002.
Melalui abstraknya, profesor di Massachusetts Institute of Technology ini menjelaskan ketika masa Orde Baru yaitu antara tahun 1973 dan 1978, pemerintah Indonesia membangun lebih dari 61.000 sekolah dasar di seluruh negeri.
Kebijakan itu disebut sebagai salah satu program pembangunan sekolah terbesar yang pernah dicatat.
Selain itu, Duflo juga mengevaluasi efek dari program ini pada pendidikan dan upah dengan menggabungkan perbedaan antar daerah dalam jumlah sekolah yang dibangun dengan perbedaan lintas kohort yang disebabkan oleh waktu program.
Dari penelitiannya, perkiraan menunjukkan bahwa pembangunan sekolah dasar menyebabkan peningkatan pendidikan dan pendapatan. Anak-anak berusia 2 hingga 6 tahun 1974 menerima 0,12 hingga 0,19 tahun lebih banyak pendidikan untuk setiap sekolah yang dibangun per 1.000 anak di wilayah kelahiran mereka.
Menggunakan variasi dalam pendidikan yang dihasilkan oleh kebijakan ini sebagai variabel instrumen untuk dampak pendidikan terhadap upah menghasilkan estimasi pengembalian ekonomi untuk pendidikan yang berjalan dari 6,8 persen menjadi 10,6 persen.
Sebagai informasi, SD Inpres dan Sekolah Pamong merupakan salah satu kebijakan pendidikan di rezim Orde Baru bagi jutaan anak-anak di seluruh Indonesia untuk mengenyam pendidikan dasar dengan biaya murah sekaligus pemerataan pendidikan ke seluruh negeri. Sehingga memperluas kesempatan belajar terutama di pedesaan dan bagi daerah perkotaan yang penduduknya berpenghasilan rendah.
Untuk itu, Presiden Soeharto menginstruksikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan membangun sekolah-sekolah dasar di seluruh Indonesia melalui dana APBN.
SD Inpres atau sering disebut “sekolah kecil” mempunyai murid berbagai kelas dalam satu ruangan dan hanya ada satu guru. Untuk anak-anak normal dalam lingkungan normal, sudah tidak ada masalah lagi karena ditangani oleh SD Negeri.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK


