AKURAT.CO, Toxic relationship atau hubungan tidak sehat (toksik) adalah kondisi saat menjalin hubungan lebih banyak merasakan kesedihan atau saling tidak mendukung satu sama lain.
Umumnya, hubungan ini juga berujung pada kekecewaan, sering tersakiti, dan rasa tidak nyaman.
Menjalani hubungan dengan pasangan, idealnya akan menjadi hal yang menyenangkan karena memiliki partner dalam menjalani berbagai suka maupun duka. Tetapi, kebanyakan orang yang mengalami hubungan tidak sehat ini tidak merasakan tanda-tandanya. Mereka juga biasanya akan denial dan menganggap hubungannya masih penuh kebahagiaan.
Tanda-tanda toxic relationship
Saat seseorang sudah terjebak dalam hubungan yang toksik, biasanya akan kurang peka terhadap tanda-tanda yang ada. Tidak sedikit yang denial dan menganggap bahwa hubungan yang dijalin masih penuh kebahagiaan.
Terkadang, tanda-tanda ini justru dilihat orang lain di luar hubungan, seperti teman atau keluarga. Perlu diingat, bahwa seseorang tidak selalu menjadi korban, tetapi berpotensi juga menjadi pelaku dalam toxic relationship.
Berikut tanda-tanda yang perlu dikenali.
1. Perilaku abusive
Abusive atau perlilaku kasar adalah kekerasan yang bisa terjadi baik secara fisik ataupun verbal. Secara fisik, seseorang dalam hubungan bisa melukai pasangannya dengan cara memukul, mendorong, menampar, menjambak, dan perilaku kasar lain yang memiliki kontak fisik bersifat nefatif.
Kekerasan secara fisik juga bisa tidak menimbulkan bekas atau bukti, ini tergantung pada seberapa tenaga yang dikeluarkan oleh pelaku.
Selain secara fisik, kekerasan juga bisa terjadi secara verbal atau kata-kata. Biasanya terjadi dengan ucapan yang memiliki artian negatif, menjatuhkan, berteriak, membentak, hingga melecehkan. Akibat dari kekerasan ini akan memengaruhi mental dan rasa tidak percaya diri korban.
2. Komunikasi tidak sehat
Idealnya, ketika dalam hubungan yang baik akan terjalinnya komunikasi yang baik juga. Pasangan akan saling bercerita dan terbuka satu sama lain dengan mudah. Tetapi, dalam toxic relationship, komunikasi terasa sulit dan penuh akan ketidakselarasan, salah paham, cekcok, pertengkaran, dan menyudutkan pasangan.
3. Kurangnya Kepercayaan
Kurangnya kepercayaan terhadap pasangan bisa ditandai dengan adanya rasa khawatir, ragu, tidak aman, dan selalu mencurigai satu sama lain. Padahal, kepercayaan itu menjadi aspek penting dalam suatu hubungan. Ini juga bisa membawa pada cemburu yang berlebih.
4. Cemburu berlebihan
Cemburu adalah suatu hal yang wajar. Tetapi, apapun yang dilakukan secara berlebihan tentu tidak baik.
Cemburu berlebihan biasanya terjadi karena kurangnya kepercayaan, rasa trauma, saking takut kehilangan, dan mau memiliki pasangan seutuhnya. Kebanyakan akan berujung pada tuduhan yang tidak benar. Ini akan menyebabkan ruang gerak pasangan menjadi terbatas serta memengaruhi mental karena selalu ditekan dengan rasa cemburu dan menerima tuduhan.
5. Sering berbohong
Kebiasaan sering berbohong pada pasangan tentu akan mengurangi rasa kepercayaan satu sama lain. Jika pasangan sering melakukan kebohongan, berarti ada sesuatu yang disembunyikan dan berpotensi menyangkut hal yang melukai perasaan lainnya. Ini juga bisa terjadi untuk melindungi diri sendiri karena ada rasa khawatir atas respons pasangan jika sesuatu diceritakan secara apa adanya.
6. Perilaku mengatur
Pasangan harus saling mendukung bukan mengatur. Namun pada toxic relationship, perilaku mengatur pasangan akan berujung pada ketidakbebasan dan tekanan. Ini sering salah diterjemahkan sebagai bentuk perhatian, padahal bukan.
Perilaku mengatur lebih bertendensi pada sifat ingin menguasai.
7. Merasakan lebih banyak kesedihan dibanding kebahagiaan
Toxic relationship juga ditandai dengan tidak adanya rasa bahagia dan lebih sering mengalami kesedihan, kecewa, rasa sakit, dan berujung pada stres. Ini bisa terjadi karena perasaan yang sudah lelah terhadap perilaku toxic pasangan. Selain pada kesehatan mental, korban juga akan banyak mengalah dan menuruti kemauan pasangan agar tidak memerparah konflik disertai dengan harapan akan adanya perubahan.
Jenis toxic relationship
Melansir laman proyectorart, hubungan yang tidak sehat memiliki berbagai jenis. Ini dikarenakan tergantung bagaimana 'racun' pelaku mempengaruhi hubungan dan pasangan. Berikut jenis-jenisnya.
1. Tom & Jerry
Jenis hubungan yang tidak sehat ini menggambarkan keadaan Tom & Jerry. Jerry sebagai seseorang yang selalu dikejar dan Tom sebagai orang yang selalu mengejar. Jenis ini juga menggambarkan hubungan antara orang yang tidak percaya diri dengan orang yang sering menghindar.
Biasanya salah satu akan bergantung pada lainnya, tetapi yang lainnya justru akan menghindar. Di saat yang sama, orang yang menghindar merasa bahwa dirinya adalah orang yang independent. Semakin dikejar, pasangan yang lainnya justru akan semakin lari.
2. Roller Coaster
Pada jenis ini, hubungan terasa seperti bermain roller coaster dan menjadi yang paling umum terjadi. Saat pasangan melakukan hal yang salah, dalam jenis roller coaster, ia akan menebus kesalahannya dengan menjadi pasangan yang baik dan kejadian ini berulang. Sehingga, emosi korban akan dipermainkan dengan perilaku pelaku yang kerap berubah. Walapun melelahkan, biasanya korban tetap bertahan dengan alasan masih merasa bahagia.
3. Bintang dan Pemujanya
Seperti namanya, toxic relationship jenis ini terjalin antara seorang bintang dan pemujanya. Seorang bintang membutuhkan orang lain untuk membuatnya bersinar. Sehingga, pasangannya harus sering memuji dan membuat senang. Ini biasanya terjadi karena si bintang tidak begitu percaya diri dan memanfaatkan atensi dari pasangannya.
4. Korban dan Pelaku
Biasanya ditandai dengan perasaan bersalah tanpa menyadari melakukan kesalahan. Ini terjadi karena pelaku sebenarnya melakukan manipulasi sehingga menjadikan lainnya sebagai pelaku. Ini sering terjadi tanpa disadari oleh pasangan.
5. Mr. Trigger
Pada jenis ini, salah satu pasangan akan mudah ke-trigger atau tersinggung akan suatu hal. Sehingga korban akan disalahkan dan merasa bersalah. Pelaku juga biasanya akan berlindung dibalik dalih bahwa korban yang memicu pelaku.
6. Mrs. Owner
Toxic relationship jenis ini sering disebut sebagai sifat posesif. Keadaan saat pelaku merasa memiliki korban seutuhnya sehingga mau melakukan apapun secara bersamaan. Ketika korban melakukan sesuatu sendirian, pelaku biasanya akan merasa tidak senang dan curiga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara





