Harga Emas Global Tembus ATH USD3.314 Dipicu Kekhawatiran pada Fiskal AS
Hefriday | 21 Mei 2025, 13:33 WIB

AKURAT.CO Harga emas global kembali melonjak dan mencapai level tertingginya dalam sepekan terakhir. Pada Rabu (21/5/2025), harga emas di pasar spot tercatat naik 0,54% menjadi USD3.307,8 per ons, sempat menyentuh level tertinggi atau All Time High (ATH) sejak 12 Mei di angka USD3.314.
Lonjakan ini terjadi di tengah pelemahan nilai tukar dolar AS serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat.
Kekhawatiran pasar mencuat seiring perdebatan sengit di Kongres AS terkait rancangan undang-undang (RUU) pemangkasan pajak skala besar yang didorong oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Ketidakpastian atas kebijakan ini menjadi pemicu utama lonjakan harga emas, yang dikenal sebagai aset lindung nilai saat gejolak ekonomi dan politik terjadi.
“Indeks dolar secara umum telah turun lebih dari satu poin dalam 24 jam terakhir. Penurunan ini dipicu oleh penurunan peringkat utang dari Moody’s dan keraguan terhadap RUU pajak yang diusulkan oleh Trump,” ujar analis Marex, Edward Meir, dikutip dari Reuters, Rabu (21/5/2025).
Pelemahan dolar AS membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah dan lebih menarik bagi investor global. Indeks dolar tercatat menyentuh posisi terendah sejak 8 Mei, memperkuat daya tarik emas sebagai aset alternatif.
Selain pasar spot, kontrak berjangka emas AS juga mencatat penguatan sebesar 0,3% ke posisi USD3.295,80 per ons. Sinyal bahwa The Fed kemungkinan akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat turut mendukung sentimen positif terhadap emas.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan bahwa pemangkasan suku bunga pertama akan dilakukan pada Oktober, dengan total penurunan mencapai sekitar 54 basis poin hingga akhir 2025.
Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menyampaikan bahwa meredanya ketegangan dagang internasional dapat menstabilkan pasar tenaga kerja dan membantu inflasi tetap mendekati target 2% yang ditetapkan oleh bank sentral.
Namun demikian, sentimen kehati-hatian terhadap kondisi fiskal tetap menjadi kekuatan dominan di pasar logam mulia.
Sementara itu, analis dari KCM Trade, Tim Waterer, menilai prospek harga emas masih kuat dalam jangka menengah hingga panjang.
"Namun, jika muncul kabar positif terkait kesepakatan dagang, hal itu bisa menjadi hambatan bagi emas untuk kembali ke level USD3.500,” ujar Waterer.
Dari sisi lain, harga logam mulia lainnya mengalami pergerakan bervariasi. Perak tercatat turun tipis 0,2% menjadi USD32,99 per ons, sementara platinum melemah 0,3% ke USD1.050,25.
Sebaliknya, palladium mencatat penguatan 0,5% ke level USD1.017,93 per ons, level tertingginya sejak awal Februari.
Situasi saat ini memperlihatkan bahwa emas tetap menjadi pilihan utama investor di tengah gejolak fiskal dan ketidakpastian arah kebijakan AS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini








