Kisah Imam Syafi'i, Ulama Besar yang Menjadi Panutan Mayoritas Muslim Indonesia

AKURAT.CO Imam Syafi'i dikenal sebagai ulama yang benar-benar berpengaruh di dunia. Salah satunya di Indonesia. Mayoritas muslim di Indonesia bermazhab Syafi'i, yang artinya cara pemahaman dan pengamalan agamanya mengikuti apa yang diyakini oleh Imam Syafi'i.
Oleh sebab itu sudah sepatutnya kita mengetahui seperti apa kisah dan teladan hidup Imam Syafi'i, ulama yang masyhur ini.
Imam Syafi’i dilahirkan pada tahun 150 Hijriah yaitu bertepatan dengan wafatnya dua ulama besar saat itu, Imam Abu Hanafi yang wafat di Irak dan Imam Ibn Jureij Al-Makky. Belaiu merupakan seorang mufti hijaz yang wafat di kota Makkah.
Perjalanan Menimba Ilmu Imam Syafi'i
Saat memasuki usia muda, Imam Syafi'i banyak mencurahkan waktunya untuk mencari naskah-naskah sastra dengan cara berkeliling ke kabilah-kabilah pedalaman. Diantaranya adalah kabilah Hudzel (kabilah yang terkenal sebagai ahli sastra).
Kemudian setelah Imam Syafi'i melewati pengembaraan dalam bidang sastra, akhirnya ia mahir dalam menggubah syair-syair Arab serta menciptakan karya syair yang dikumpulkan oleh Syekh Yusuf Muhammad Al-Biqa’i dalam buku kecil berjudul Diwan Al-Syafi’i.
Sedangkan perkenalan Imam Syafi’i dengan keilmuan fikih dimulai ketika guru-gurunya menyarankan agar beliau mempelajari fikih setelah mahir berkarya di bidang sastra.
"Alangkah baiknya jika kecerdasanmu itu digunakan untuk mempelajari ilmu fikih, hal itu lebih baik bagimu dari pada hanya belajar sastra," kata Imam Muslim bin Khalid guru Imam Syafi'i.
Atas saran dari guru-gurunya itulah Imam Syafi’i akhirnya termotivasi untuk mempelajari ilmu fikih dan ilmu hadis. Imam Syafi'i kemudian belajar kepada ulama besar kota Makkah yaitu Imam Sufyan bin Uyainah (seorang ahli hadis) dan Muslim bin Khalid Al-Zanji, (seorang ahli fikih).
Tak hanya sampai disitu, Imam Syafi’i melanjutkan safari keilmuannya hingga ke kota Madinah untuk berguru dengan Imam Malik bin Anas. Berikutnya, Imam Syafi’i juga berguru kepada murid-murid Imam Hanafi ke Kufah dan Irak.
Setelah itu, Imam Syafi'i melanjutkan perjalanan hingga ke Persia, Turki, dan Palestina sebelum akhirnya memutuskan untuk tinggal di Mesir.
Ternyata pengalaman-pengalaman dalam mengembara ilmu itulah yang membuatnya melahirkan beberapa petuah tentang musafir agar mencari ilmu tidak hanya di satu tempat.
“Singa jika tidak keluar dari sarangnya maka ia tidak akan mendapatkan makanan. Begitu juga dengan anak panah, jika tidak meluncur dari busurnya, anak panah tersebut tidak akan mengenai sasarannya,” kata Imam Syafi’i.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 4Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 5Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 6Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 7Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat



