Akurat Logo

Jauhi Toxic Positivity, Ini Bahayanya untuk Kesehatan Mental

Jhon | 26 Oktober 2021, 16:40 WIB
Jauhi Toxic Positivity, Ini Bahayanya untuk Kesehatan Mental

AKURAT.CO, Tidak dapat disangkal bahwa bersikap positif dapat memberikan kenyamanan dan harapan saat kamu tengah dirundung masalah. Namun, sikap positif yang terlalu ekstrem dapat menghilangkan rasa sakit, kesedihan, dan trauma, bahkan berpotensi merusak diri sendiri dan orang lain. 

Juhee Jhalani, PhD, seorang psikolog klinis yang berbasis di New York City, menjelaskan bahwa setiap orang memang harus selalu optimis, akan tetapi tanpa mengabaikan emosi "gelap", seperti sedih, cemas, dan lain-lain. Jika tidak, kamu akan terjebak dalam toxic positivity (positivitas beracun).

"Toxic positivity adalah gagasan dan upaya aktif untuk mengabaikan atau mengesampingkan pikiran atau perasaan yang kurang menyenangkan seperti kemarahan, kesedihan atau frustrasi," kata Jhalani, dikutip AKURAT.CO pada Selasa, (26/10/2021). 

Menggandalkan sikap positif seringkali membuat kamu menyederhanakan situasi. Kamu menganggap bahwa kepositifan dapat memperbaiki apapun yang salah dalam hidup, dan meredakan semua emosi yang menyakitimu.

"Tetapi, toxic positivity tidak mampu mempertimbangkan kompleksitas kehidupan dan spektrum penuh emosi yang menyertainya," imbuhnya.

Kamu mungkin mengira hanya sedang bersikap optimis. Namun, toxic positivity dan opstimisme itu berbeda. Optimisme merupakan praktik mengharapkan hasil positif sambil memiliki kesadaran penuh bahwa itu mungkin tidak terjadi.

Optimisme dapat membantu kamu menghadapi tantangan dan menciptakan peluang baru, sehingga mendorongmu untuk tumbuh dan berjuang untuk masa depan yang lebih baik.

Sementara, toxic positivity menyangkal emosi gelap dan menumbuhkan optimisme yang dipaksakan. Jika terus dibiarkan, toxic positivity bisa memengaruhi kesehatan mentalmu.

Berikut AKURAT.CO uraikan alasannya satu per satu: 

Meningkatkan stres

Dengan pola pikir toxic positivity, kamu tidak akan membicarakan peristiwa traumatis dan menyakitkan. Sebaliknya, kamu mungkin mendengar orang mengatakan hal-hal seperti "lupakan" atau "lepaskan rasa sakit." Kata-kata ini masih bisa berbahaya meskipun diucapkan dengan niat baik. Namun, pada saat kamu tidak mengakui adanya kesedihan, rasa sakit dan trauma, itu hanya akan meningkatkan stres dan kesedihanmu.

Membungkam diri

Toxic positivity dapat mencegah kamu untuk membagikan pengalaman menyakitkanmu. Kamu memilih untuk membungkam rasa sakitmu karena karena takut akan penilaian, penolakan, atau pengabaian, 

"Orang akan sering berdiam diri karena tidak ingin terlihat negatif atau cengeng," ujar Jhalani.

Nah, kondisi ini sangat berbahaya untuk korban kekerasan dan pelecehan. Ini dapat memperburuk gejala depresi dan kecemasan atau menyebabkan mekanisme koping yang tidak sehat seperti penyalahgunaan zat. 

Melupakan realita

Orang-orang dengan pola pikir toxic positivity akan sering menyepelekan emosi menyakitkan yang dirasakannya. Ini bisa berbahaya ketika kamu berada dalam hubungan yang tidak sehat atau kasar. 

Misalnya, kamu mungkin akan menyalahkan diri sendiri meski telah mendapatkan kekerasan dari pasangan. Kamu merasa tidak berusaha cukup keras untuk membuat pasangannya bahagia, padahal sebenarnya itu bukan salahmu.

Menghambat pertumbuhan pribadi

"Ironisnya, toxic positivity dapat menghambat kemajuan dan membuat seseorang tetap terjebak dalam situasi atau hubungan yang kurang ideal, kata Jhalani.

Itu karena pola pikir toxic positivity sering bergantung pada pemikiran "semuanya akan baik-baik saja" atau alam semesta akan campur tangan untuk menyelamatka dan memecahkan masalahmu. 

Tetapi terkadang hal-hal tidak berhasil begitu saja atau membutuhkan tindakan nyata untuk diselesaikan. Dan selama masa-masa sulit inilah kamu harus menggunakan logika untuk membuat keputusan, bukan toxic positivity. Pada akhirnya, ini dapat membantu kamu tumbuh sebagai pribadi.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

J
Reporter
Jhon
C