Akurat Logo

Kekurangan Hormon Testosteron Dapat Terjadi di Usia 40 Tahun ke Atas

Khaerul S | 23 November 2019, 16:03 WIB
Kekurangan Hormon Testosteron Dapat Terjadi di Usia 40 Tahun ke Atas

AKURAT.CO Data dari sebuah studi menunjukkan bahwa terdapat 38,7 persen pria dengan usia di atas 45 tahun memiliki kadar testosteron kurang dari kadar normalnya yaitu, kurang dari 300 nanogram/desiliter (ng/dL)1.

Dalam acara Men’s International Day, dr. Nugroho Setiawan, MS, Sp.And mengungkapkan bahwa kekurangan hormon testosteron banyak terjadi pada pria usia 40 tahun ke atas. Dimulai dari usia 30 tahun akan terjadi penurunan hormon testosteron seiring bertambahnya usia yang mengakibatkan terjadi penurunan kadar hormon testosteron dalam tubuh seorang pria.

"Penurunan ini sekitar 2-3 persen per tahun. Maka di usia 40 tahun kadar testosteron menjadi sekitar 65-70 persen dan pada usia 60 tahun ke atas sekitar 45-50% dari usia 25 tahun," jelasnya di Jakarta, baru-baru ini.

Banyak pria yang mengalami kekurangan hormon testosteron tidak menyadari penyakitnya. Menurut dr. Nugroho, deteksi awal kekurangan hormon testosteron dapat dilakukan dengan memperhatikan gejala yang dialami.

Berdasarkan ADAM questionnaire, pria harus waspada terhadap gejala berikut ini:

1. Penurunan dorongan seksual akhir-akhir ini

2. Lemas atau kurang tenaga

3. Daya tahan atau kekuatan fisik menurun

4. Tinggi badan berkurang

5. Kenikmatan hidup menurun

6. Mudah kesal dan marah

7. Disfungsi ereksi

8. Penurunan kemampuan olahraga

9. Sering mengantuk dan tertidur sesudah makan malam

10. Penurunan prestasi kerja

Jika pria mengalami gejala nomor 1 atau nomor 7 atau tiga gejala lain, pria tersebut mungkin kekurangan hormon testosteron. Pria yang mengalami gejala-gejala kekurangan hormon testosteron harus segera berkonsultasi dan memeriksa kadar testosteronnya untuk mendapatkan terapi sulih hormon sehingga kualitas hidup juga menjadi lebih baik.

Tujuan terapi sulih hormon testosteron adalah untuk mengembalikan kadar testosteron ke tingkat normal, yang dapat memperbaiki setiap komponen sindrom metabolik. Banyak pasien yang diberikan injeksi testosteron jangka panjang mengalami penurunan lingkar pinggang, penurunan berat badan, perbaikan gula darah, serta perbaikan lemak darah.

Rendahnya hormon testosteron dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan psikologis, gangguan metabolik, gangguan kardiovaskular, gangguan seksual, permasalahan fisik, serta risiko kematian yang lebih tinggi.

Dr. Nugroho mengingatkan bahwa pemberian testosteron adalah tanggung jawab Dokter dan akan memilih obat resmi yang telah disetujui Badan POM, memiliki efektivitas tinggi, efek samping yang ringan, pemberiannya nyaman untuk pasien dan tidak mempunyai kontra-indikasi.

“Injeksi Testosterone Undecanoate jangka panjang biasanya dipilih karena berdasarkan penilitian yang dilakukan tahun 2015 oleh Carruthers M, Cathcart P, Feneley MR - yang menunjukkan tingkat keberhasilan terapi sampai 82 persen, sedangkan keberhasilan dengan penggunaan obat minum hanya mencapai 41," tambah dr. Nugroho.

Pemberian Injeksi Testosterone Undecanoate jangka panjang juga lebih aman terhadap hati karena tidak masuk ke dalam aliran darah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Khaerul S
A