Tak Bergejala, Waspadalah Terhadap Penyakit Talasemia Minor

AKURAT.CO AKURAT.CO, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes RI, dr. Cut Putri Arianie, M.H.Kes, menyampaikan data yang menunjukan tujuh dari 10 orang di Indonesia, tidak mengetahui bahwa dirinya menderita penyakit tidak menular.
Hal tersebut juga berlaku untuk penyakit tidak menular Talasemia, pasalnya Dr. dr. Tubagus Djumhana Atmakusuma, Sp.PD- KHOM, mengatakan penderita Talasemia setiap tahunnya terus alami peningkatan. Salah satu pencetusnya adalah ketidaktahuan si penderita, yang ternyata memiliki kelainan darah merah yang kita sebut Talasemia.
"Kalau berbicara angka, data menunjukan ada 2500 kelahiran baru dengan Talasemia. Padahal, menurut statisnya harusnya di Indonesia ada 30ribu. Masih banyak yang gak kediteksi kan itu? Ini karena deteksi dini usia enam bulan hingga dua tahun tidak dijalankan, sehingga bayi meninggal terkadang tidak diketahui ternyata karena Talasemia," ujarnya kepada AkuratHealth, dibilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin, (21/5).
Jadi penyakit keturunan Talasemia ini ada tiga jenis, Mayor, Intermedia, dan Minor atau pembawa sifat. Untuk Talasemia minor/pembawa sifat ini tidak memiliki gejala apa-apa, penderita terlihat seperti biasa saja, tak alami sakit dan sebagainya.
Namun, ketika Talasemia Minor menikah dengan sesama penderita Talasemia Minor, tak menutup kemungkinan keturunannya akan menderita Talasemia Mayor.
Dimana jenis Talasemia Mayor ini dikatagorikan jenis Talasemia yang sangat memberatkan pasien dan keluarga pasien, karena pasien membutuhkan rutin transfusi darah seumur hidup, dan melakukan treatment lainnya seumur hidup. Jika tidak dilakukan, maka kematian akan menghampirinya.
"Jadi bila kedua orang tua Talasemia Minor, yang tidak memiliki gejala apapun, 50 persen anak juga akan Talasemia Minor, 25 persen kemungkinan anak jadi Talasemia Mayor, dan 25 persen kemungkinan anak terlahir normal. Kalau salah satu orang tua Minor, menikah dengan yang normal, maka fifty fifty anak bisa normal, bisa juga Talasemia tapi hanya Minor," jelasnya.
"Lalu kalau salah satu orang tua Mayor, dan menikah dengan yang normal, 100 persen anak akan Telesemia, tapi yang Minor. Dimana kalau Minor kan tidak perlu di obatin, karena kaya gak sakit. Jadi, intinya menikah dengan tidak sesama Talasemia itu membantu sekali menekan penderita baru. Untuk dapat mewujudkan itu, screnning awal maka yang dibutuhkan, agar sejak dini sudah tau keadaan, dan tidak menikah dengan sesama Talasemia," tambahnya.
Dirinya berharap, semakin banyak orang yang meningkatkan awareness kepada kesehatan diri sendiri. Sehingga tetap menjalankan deteksi dini, melakukan screening, walaupun tubuh tak merasakan adanya gangguan kesehatan. Sebab, tak semua penyakit memberikan gejala, seperti Talasemia Minor ini. Penting diingat, dengan diketahui lebih dini sebuah penyakit, tentunya akan mempermudah dalam penyembuhannya. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 6Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 7Prediksi Spanyol vs Kroasia di UEFA Nations League: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 8Kalender Jawa 29 September 2026: Selasa Wage Cocok untuk Apa? Ini Watak dan Neptunya
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah




