Akurat Logo

Proyek GERD Ethiopia: Ambisi Energi Hijau yang Bikin Mesir Gelisah

Kumoro Damarjati | 9 September 2025, 09:59 WIB
Proyek GERD Ethiopia: Ambisi Energi Hijau yang Bikin Mesir Gelisah


AKURAT.CO Ethiopia resmi meresmikan Bendungan Renaisans Besar Ethiopia (Grand Ethiopian Renaissance Dam/GERD), proyek energi ambisius yang digadang-gadang sebagai bendungan hidroelektrik terbesar di Afrika. Pembangunan yang dimulai sejak 2011 ini diperkirakan mampu memasok listrik bagi jutaan warga Ethiopia sekaligus mengekspor kelebihan energi ke negara-negara tetangga.

Namun, di balik kebanggaan nasional tersebut, proyek senilai 5 miliar dolar AS ini juga memperdalam ketegangan dengan Mesir, negara hilir Sungai Nil yang khawatir pasokan airnya terancam.

Proyek Ambisius untuk Ekonomi Ethiopia

Dengan populasi sekitar 120 juta jiwa, Ethiopia menaruh harapan besar pada GERD sebagai motor pembangunan. Bendungan ini sudah mulai beroperasi dengan dua turbin yang menghasilkan 750 megawatt, dan ke depannya ditargetkan mencapai kapasitas penuh hingga 5.150 megawatt.

Perdana Menteri Abiy Ahmed menegaskan energi dari bendungan akan memperluas akses listrik warga, sekaligus membuka peluang ekspor energi murah ke kawasan. “Energi dan pembangunan yang dihasilkan bendungan ini tidak hanya mengangkat Ethiopia, tapi juga bisa menjadi peluang bersama,” ujarnya.

Kekhawatiran Mesir dan Sudan

Di sisi lain, Mesir memandang bendungan ini sebagai ancaman serius. Dengan populasi 108 juta jiwa yang 90% kebutuhan air tawarnya bergantung pada Sungai Nil, Kairo khawatir aliran air akan berkurang terutama saat musim kemarau.

Mesir menilai GERD melanggar perjanjian air era kolonial Inggris dan berpotensi menjadi ancaman eksistensial. Pemerintah Mesir bahkan menyatakan siap mengambil langkah apa pun untuk melindungi kepentingan rakyatnya.

Sudan juga menyerukan adanya perjanjian hukum yang mengikat terkait pengisian dan pengoperasian bendungan. Meski begitu, Sudan berpotensi mendapat manfaat dari pengelolaan banjir yang lebih baik serta akses energi lebih murah.

Politik Air yang Memanas

Ketegangan ini sempat menarik perhatian internasional. Mantan Presiden AS Donald Trump pada 2020 bahkan menyebut Kairo bisa saja “meledakkan bendungan itu” jika tak ada kesepakatan. Meski begitu, berbagai perundingan selama bertahun-tahun belum membuahkan hasil.

Ethiopia tetap bergeming. Pemerintah menegaskan pembangunan bendungan adalah hak kedaulatan, dan sejak 2020 mereka mulai mengisi waduk secara bertahap. Kajian independen menyebut, hingga kini tidak ada gangguan besar terhadap aliran air berkat curah hujan tinggi dan strategi pengisian yang hati-hati.

Sumber Persatuan Nasional

Di tengah konflik internal yang kerap melanda Ethiopia, GERD justru menjadi simbol persatuan nasional. Warga menilai hak Ethiopia membangun bendungan di wilayahnya sendiri tidak bisa ditekan oleh Mesir.

Pendanaan proyek ini pun menjadi kebanggaan tersendiri: 91% berasal dari bank sentral Ethiopia, sementara sisanya dikumpulkan dari masyarakat lewat obligasi dan hibah. Tak ada bantuan asing yang digunakan.

Tantangan ke Depan

Meski waduk seluas lebih dari wilayah London Raya sudah terbentuk, manfaat listriknya belum dirasakan merata. Saat ini hanya sekitar separuh penduduk pedesaan Ethiopia yang terhubung ke jaringan listrik nasional.

Hubungan Ethiopia dan Mesir pun diperkirakan masih bisa memanas, terutama terkait ambisi Ethiopia mendapatkan akses ke laut melalui Eritrea atau Somalia. Dukungan Mesir terhadap kedua negara itu semakin menambah sensitivitas kawasan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.