Akurat Logo

Detik-detik Pengungsi Rohingya Mendarat di Indonesia, Terkapar Kelaparan dalam Tangisan Pilu

| 28 Desember 2022, 15:57 WIB
Detik-detik Pengungsi Rohingya Mendarat di Indonesia, Terkapar Kelaparan dalam Tangisan Pilu

AKURAT.CO Para pengungsi Rohingya terlihat terkapar di suatu pantai. Tubuh mereka kurus kering berbalut baju basah kuyup. Sementara itu, warga lokal tampak mengerumuni mereka di tengah tangisan yang menyayat hati. Beberapa orang dewasa pun membantu para penyintas lainnya turun dari kapal menuju daratan.

Itulah pemandangan yang terekam dalam video yang diunggah oleh akun Twitter Aung Kyaw Moe, seorang Penasihat Kementerian HAM dalam Pemerintah Persatuan Nasional, pemerintah bayangan Myanmar yang didirikan oleh para anggota parlemen yang digulingkan junta militer dalam kudeta 2021.

"Kelaparan dan dehidrasi membuat mereka setengah mati. Rohingya mempertaruhkan nyawa demi bertahan hidup dengan mengarungi laut yang berbahaya," tulisnya dalam unggahan pada Selasa (27/12/2022).

Video ini selaras dengan kabar kedatangan sebuah kapal yang mengangkut 174 Rohingya di Provinsi Aceh, Indonesia pada Senin (26/12/2022). Kebanyakan dari mereka mengalami dehidrasi, lemas, dan membutuhkan perawatan medis darurat setelah berminggu-minggu terombang-ambing di laut.

Menurut salah satu penyintas, Shafiq Rahman, ada 200 orang yang berlayar dengan perahu kecil dari Bangladesh menuju Indonesia yang mayoritas Muslim. Sebanyak 26 di antaranya meninggal di laut.

"Kami terombang-ambing di laut selama 40 hari," ungkapnya, dilansir dari Reuters.

Bekal makanan pun menipis setelah 10 hari. Tak lama kemudian, perahu reyot itu bocor.

"Kami tiba di tempat ini dengan aman dan sehat berkat rahmat Allah," ucapnya di tempat penampungan sementara di kabupaten Pidie.

Di sana, puluhan orang dipasangi infus dan tenaga kesehatan (nakes) merawat mereka. Sementara itu, seorang wanita terlihat mengipasi anak-anak yang sedang tidur dengan sepotong karton.

Rohingya merupakan etnis Muslim dari Myanmar yang mayoritas beragama Buddha. Sekitar 800 ribu orang telah melarikan diri ke Bangladesh sejak 2017 karena mengalami penindasan. Ribuan di antaranya kemudian melarikan diri ke destinasi yang lebih jauh di Asia Tenggara.

Shafiq dan yang lainnya mengaku datang ke Indonesia demi kehidupan yang lebih baik dan mencari kesempatan untuk belajar. Penyintas lainnya, Samusa Khatun, mengaku datang ke Indonesia untuk menghindari kemiskinan dan mencari pekerjaan.

Dalam beberapa pekan terakhir, terjadi serentetan pendaratan kapal dan penyelamatan di sekitar wilayah ini. Jumlah Rohingya yang melarikan diri dari kamp pengungsi di Bangladesh pun dilaporkan naik signifikan.

Satu kapal yang membawa 180 orang diduga telah tenggelam pada awal Desember. Seluruh penumpangnya diyakini tewas, menurut kelompok HAM. UNHCR pun memperkirakan 2022 akan menjadi salah satu tahun paling mematikan di laut dalam hampir satu dekade bagi Rohingya.

Upaya Rohingya mengarungi samudra menuju Thailand, Malaysia, dan Indonesia, kerap berlangsung antara November dan April ketika laut lebih tenang.

Di Indonesia sendiri, hampir 500 orang Rohingya mendarat di pantainya dalam 6 pekan terakhir, menurut badan pengungsi PBB, UNHCR. Menurut pernyataan otoritas setempat pada Selasa (27/12/2022), pemerintah bekerja sama dengan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan UNHCR guna memindahkan Rohingya ke tempat penampungan di kota-kota terdekat.

“Kita telah berkoordinasi dengan pihak Imigrasi dan mereka telah berkordinasi dengan pihak UNHCR dan IOM yang menyatakan akan menangani para kaum migran dari Myanmar itu,” kata Pj Bupati Aceh Besar, Muhammad Iswanto saat meninjau para pengungsi lintas negara tersebut di lokasi penampungan di Ladong, Minggu (25/12/2022) malam, dikutip dari situs acehbesarkab.go.id.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.