Dipicu Kematian Mahsa Amini, Protes Hak-hak Sipil Iran Mengglobal

AKURAT.CO Demonstrasi hak-hak sipil Iran yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini telah menyebar ke berbagai belahan dunia. Protes pun ikut pecah di berbagai negara, dengan aksi solidaritas massal ramai serentak digelar pada Sabtu (1/10).
Sebagaimana diwartakan The Guardian, demonstrasi dengan slogan 'Perempuan, Kehidupan, dan Kebebasan' meletus di banyak kota besar di dunia. Di antaranya termasuk Auckland, London, Melbourne, New York, Paris, Roma, Seoul, Stockholm, Sydney, hingga Zurich.
Upaya untuk menuntut kebebasan yang lebih luas juga sedang dilakukan di Iran pada Sabtu. Seruan nasional terhadap pemerintah pun terus dilancarkan, terutama di kota-kota Kurdi di negara itu. Warga yang sudah marah dengan keotoriteran bahkan sampai mempromosikan penolakan untuk membayar pajak kepada pemerintah.
Kemarahan publik berkobar setelah Amini, seorang wanita Kurdi berusia 22 tahun, meninggal dalam tahanan. Ia wafat di rumah sakit pada 16 September, tiga hari setelah penangkapannya karena diduga melanggar aturan ketat Iran tentang jilbab atau 'pakaian yang pantas'.
Insiden protes yang tampaknya paling keras, sementara itu, telah meletus di Iran. Sebanyak 40 orang dilaporkan tewas secara massal setelah protes dipicu oleh kabar bahwa seorang polisi telah memerkosa seorang wanita.
Pejabat keamanan kemudian mengeklaim bahwa situasi telah dikendalikan di Kota Zahedan, di Provinsi Sistan dan Baluchestan di Iran timur. Laporan menunjukkan polisi menembaki warga sipil selama salat Jumat.
Rumah sakit setempat dibanjiri dengan orang-orang yang terluka, dengan sebuah kantor polisi dibakar dalam kerusuhan yang berlanjut semalaman.
Komandan unit intelijen lokal dari Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan tewas. Sumber resmi pemerintah Iran telah mengonfirmasi hal ini.
Video di media sosial memperlihatkan situasi ricuh, dengan mobil pemadam kebakaran, terminal bus, dan bank terbakar.
Pemerintah Iran telah mengeklaim kerusuhan itu, termasuk tembakan dari kerumunan, diatur oleh kelompok teroris. Namun, kesaksian berbeda diungkap warga. Para pengunjuk rasa mengatakan polisilah yang telah menembaki kerumunan saat warga sedang sembahyang.
Protes besar di Iran kali ini berhasil menyatukan berbagai elemen yang berbeda di masyarakat, meski tampaknya tanpa pemimpin. Protes ini pun secara tidak langsung mengungkapkan jurang budaya di dalam Iran. Pemerintah kini makin memberi perhatian jika protes-protes ini mulai menyatu menjadi gerakan nasional lintas-kelas dengan tujuan tertentu.
Negara Iran, bagaimanapun, memiliki alat yang tak terbatas untuk menindas perbedaan pendapat, kontrol penuh atas media, termasuk TV, dan rekam jejak yang pada akhirnya mampu menekan protes bahkan dengan mengorbankan banyak nyawa manusia.
Pada Jumat, badan intelijen negara itu mengeluarkan pernyataan panjang, menyalahkan protes pada agen asing dan teroris. Mereka menyoroti laporan bahwa 85 ambulans telah diserang. Dan anggota parlemen garis keras terus mengecam para pengunjuk rasa. Di sisi lain, warga terus turun ke jalanan, termasuk mereka dari institusi pendidikan.
Kelompok mahasiswa mengeklaim bahwa pemogokan setidaknya dilakukan lebih dari 110 universitas, fakultas dan pusat pendidikan di Iran. Aksi duduk bersama juga digelar sebagai simbol protes terhadap penindasan protes jalanan yang berbuntut hilangnya nyawa.
Media sosial juga menunjukkan protes pecah di kampus-kampus di seluruh negeri. Lebih dari 100 profesor universitas dilaporkan telah menandatangani pernyataan menuntut pembebasan dari penahanan mahasiswa mereka.
"Setiap orang harus menghargai keberadaan mahasiswa yang siap mengorbankan diri dan membayar harga untuk membela kebebasan, keadilan dan martabat manusia," kata mereka dalam sebuah pernyataan.
Sebelumnya, Pusat Kerja Sama Partai Politik Kurdistan Iran lebih duduk menyerukan pemogokan nasional. Mereka mendesak dukungan bagi kaum muda Iran yang menuntut kebebasan dan penindasan perempuan di dalam Iran.
Seruan pemogokan mendapatkan penghormatan di sebagian besar Kurdistan. Namun, laporan penembakan polisi masih terdengar di beberapa kota besar seperti Dehgolan dekat perbatasan dengan Irak.
Di selatan negara itu, protes juga meletus di pelabuhan strategis Bandar Abbas.
Berbicara sebagai tahanan rumah, politisi reformis dan mantan Perdana Menteri Iran, Mir-Hossein Mousavi mengirimkan pesan mendesak untuk pasukan keamanan. Mousavi menghimbau agar petugas berpihak pada rakyat.
"Angkatan bersenjata! Kekuasaan yang Anda miliki adalah untuk membela rakyat, bukan untuk menindas mereka; untuk melindungi yang tertindas, bukan melayani yang kuat dan perkasa.
"Harapannya adalah Anda akan berdiri di sisi kebenaran dan bangsa. Tugas Anda adalah mengamankan perdamaian bagi jutaan orang dan terutama yang tertindas, bukannya untuk mengonsolidasikan kekuatan pejabat yang bengal!" katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 4Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 5Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 6Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 7Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 8India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi



