Mengenal Hanteren, Oposisi Kekaisaran Jepang yang Semakin Kehilangan Pengikut

AKURAT.CO, Meski dikenal sebagai negara monarki sejak dahulu, nyatanya terdapat kelompok yang menjadi oposisi monarki di Jepang. Kelompok tersebut menamakan diri mereka Han Tennosei Undo Renraku Kai atau Hantenren (Jaringan Kelompok Anti-Kaisar). Meski jumlahnya sangat kecil, kelompok ini dikenal amat vokal.
Kelompok 'minoritas' ini menuntut dihapuskannya sistem monarki Jepang sebagai salah satu cara untuk 'menebus dosa' Jepang di masa lalu. Dosa yang mereka maksud adalah kejahatan-kejahatan perang yang dilakukan Jepang.
"Perang tidak berakhir dengan benar," kata Nomura salah satu anggota Hantenren, dilansir dari laman BBC, Jumat (3/5).
"Hirohito memiliki perhatian besar dalam kemiliteran. Dia hanya takut berperang dengan AS dan Inggris, karena dia tahu militer Jepang tak bisa mengimbangi kedua negara itu," lanjut Nomura.
Kelompok antimonarki ini lahir pada masa kekuasaan Kaisar Hirohito, kaisar yang mereka pandang tidak bertanggung jawab atas kejahatan perangnya. Pascakekalahan pada Perang Dunia II, Jepang berubah menjadi monarki konstitusional. Kaisar menjadi sebatas simbol negara yang tidak memiliki kekuatan politik. Namun, Kaisar tetap tidak mempertanggungjawabkan kejahatannya.
Keadaan berubah saat Hirohito digantikan oleh Akihito. Saat menjabat, Akihito berhasil memperbaiki citra kekaisaran dengan memperbaiki hubungan Jepang dan negara-negara yang dahulu pernah diinvasi. Meski hingga kini hubungan Jepang dan negara-negara korbannya masih belum sepenuhnya baik, namun di level domestik langkah Akihito berhasil mengambil hati rakyat Jepang. Survei menunjukkan bahwa 80 persen rakyat Jepang masih mendukung kekaisaran.
Hal ini jelas berdampak pada Hantenren yang semakin kehilangan pengikut. Dalam aksi terakhir mereka saja, massa yang hadir hanya 80 orang. Jumlah tersebut sangat jauh bila dibandingkan dengan pengikut mereka di masa lalu yang dapat mencapai 3.000 orang.
Meski begitu, Nomura selaku anggota Hantenren mengaku akan tetap menyuarakan pandangannya hingga 10 tahun ke depan apabila fisiknya masih memungkinkan. Ia juga mengakui bahwa memang sulit menyuarakan pandangan yang tidak populer.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi




