Akurat Logo

Fenomena Langit Terbelah Crepuscular Rays, Benarkah Tanda Akan Terjadi Bencana?

| 3 Juli 2023, 13:53 WIB
Fenomena Langit Terbelah Crepuscular Rays, Benarkah Tanda Akan Terjadi Bencana?

AKURAT.CO Fenomena langit terbelah muncul di beberapa wilayah Yogyakarta saat menjelang matahari terbenam pada Jumat (30/6/2023) sebelum terjadinya gempa bumi. Meski terlihat indah namun menyeramkan sehingga sebagian masyarakat menganggap sebagai pertanda datangnya bencana atau gempa.

Munculnya fenomena serupa tidak hanya terjadi baru-baru ini tetapi telah terjadi berulang kali dari tahun ke tahun sehingga sering dihubungkan dengan bencana alam. Lalu apa sebenarnya fenomena langit terbelah ini?

Adanya fenomena aneh di langit tersebut umumnya dinamakan dengan fenomena 'Crepuscular Ray' atau sinar krepuskular, keadaan terhalangnya cahaya matahari sehingga menimbulkan kesan seolah-olah langit terbagi menjadi dua oleh suatu bayangan.

Langit Terbelah Crepuscular Rays Atau Awan Gempa

Dikutip dari berbagai sumber, Senin (3/7/2023), crepuscular rays merupakan fenomena alam ketika sinar matahari menembus celah objek di langit seperti awan kemudian beradiasi membentuk bayangan-bayangan lurus.

Sinar radiasi matahari tersebut akan lurus memberi warna tersendiri pada lintasan awan yang teradiasi dan biasa terjadi pada saat matahari terbit atau tenggelam. Awan yang terbentuk akibat sinar lurus radiasi matahari inilah yang sering disebut dengan Awan Gempa dan sering dikaitkan dengan tanda-tanda akan terjadi bencana alam.

Awan gempa memiliki warna yang beragam, biasanya didominasi oleh warna merah, kuning, biru dan hijau atau tergantung dari pengaruh partikel udara dan cuaca.

Crepuscular juga biasa terjadi karena terhalangnya cahaya matahari baik oleh awan atau gunung yang biasa terjadi pada saat pagi atau sore hari hingga membuat efek bayangan dan terlihat seperti langit terbelah menjadi dua.

Menurut BMKG, korelasi awan lurus yang muncul akibat Crepuscular Rays dan disebut sebagai awan gempa dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Foto-foto yang beredar tidak bersumber dari lembaga atau institusi resmi.
  • Pengamatan awan gempa masih sebatas hipotesis dan belum ada teori ilmiah resmi yang dijadikan rujukan perkiraan akan terjadinya gempa bumi.
  • Cocokologi awan lurus sebagai 'Awan Gempa' tidak didukung oleh penjelasan syarat terbentuknya awan terkait adanya uap air yang cukup, temperatur, polutan dan kondisi atmosfer.
  • Kemungkinan lain, awan lurus juga dapat terbentuk dari asap pesawat mengikuti lintasan yang ditempuh.

Munculnya awan lurus seperti awan gempa juga dapat diakibatkan oleh penguapan air yang diperoleh dari panas bumi karena konversi energi selain episentrum gempa.

Jadi fenomena langit terbelah seperti yang terlihat di berbagai daerah di Jogja tersebut tidak berkaitan sama sekali dengan gempa bumi ataupun sebagai pertanda datangnya bencana.

Faktanya merupakan sebuah fenomena alam biasa dan bisa terjadi kapan saja jika sinar radiasi matahari terhalang oleh sesuatu yang besar sehingga menimbulkan bayangan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.