Tak Asal, Target Pelaku Kejahatan Jalanan yang Dicap Klitih Versi Kriminolog
AKURAT.CO, Pelaku aksi kejahatan jalanan di Yogyakarta dan sekitarnya yang kini kerap disebut klitih, sejatinya tak pernah asal dalam memilih korbannya.
Kriminolog Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Suprapto, menyebut bahwa berdasarkan hasil penelitiannya, para pelaku kejahatan jalanan yang didominasi remaja atau pelajar ini memiliki kriteria dalam memilih targetnya.
"Pertama, mereka (pelaku) tidak melakukan perampasan," kata Suprapto dihubungi, Jumat (8/4/2022).
Kedua, lanjut Suprapto, para pelaku tak akan memilih perempuan atau orang tua sebagai targetnya.
"Keempat, mereka juga tidak menyerang laki dan perempuan boncengan (sepeda motor)," imbuh Suprapto.
Pemilihan target ini semacam sudah menjadi kesepakatan tak tertulis bagi para pelaku.
Mereka, kata Suprapto, cenderung memilih mangsa yang sepantaran. Artinya, sesama remaja atau pelajar. Umumnya, spontan yang ditemui di jalan.
"Karena bagi mereka itu kebanggaan, kalau menyerang perempuan, orangtua apalagi, para pelaku ini tak akan mendapat prestige," bebernya.
Penelitian Suprapto yang mengungkap hal-hal di atas dilakukannya sepanjang 2004-2010. Dia memakai metode participant observation atau pengamatan partisipan selama risetnya.
Suprapto mengamati interaksi para pelaku klitih pada masa itu dengan menyamar sebagai tukang batu yang mampir ke warung makan sehabis pulang kerja.
"Saya ketemu mereka (pelaku klitih) yang biasanya mangkal di dulu namanya warung burjo atau sekarang warmindo," ungkap dia.
Dari hasil mengamati dan mencuri dengar obrolan, para pelaku biasanya mengawali aksi dengan diskusi panjang. Menentukan waktu eksekusi, rute perjalanan, senjata, hingga pakaian yang akan dipakai saat mengaspal nanti.
"Saya juga sempat mewawancarai beberapa mantan pelaku," tambahnya.
Lebih jauh, Suprapto mengaku termasuk pihak yang setuju jika kata klitih tak lagi dimaknai untuk aksi kejahatan jalanan. Kata dia, istilah ini sebenarnya bersifat positif.
Klitih adalah Bahasa Jawa yang berarti sebuah aktivitas mengisi waktu luang secara positif. Bisa jalan-jalan cari angin, menulis, membaca atau mengisi TTS (teka-teki silang).
Istilah klitih mulai mengalami pergeseran makna dari 2004-2009. Berawal dari akal-akalan para pelajar yang dilarang ikut tawuran sehingga berkeliling naik motor mencari musuh di jalanan.
"Tetapi ketika itu (istilah klitih) diadopsi, dipakai istilah itu oleh remaja, oleh pelajar jadi bermakna kegiatan mencari musuh. Atau menjadi negatif," jelas Suprapto. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai


