Alami Gejala Trauma, Mantan Petarung MMA Putri Ini Sumbangkan Otaknya Untuk Penyelidikan Medis

AKURAT.CO, Mantan atlet seni beladiri campuran (MMA) putri asal Amerika Serikat, Julie Kedzie, bersedia menyumbangkan otaknya untuk dijadikan bahan penelitian medis. Sumbangan ini untuk menyelidiki gejala trauma pada otak yang dialami eks petarung UFC itu.
Sebagaimana dikabarkan BBC, Julie Kedzie, 42 tahun, mengalami depresi, kecemasan, hiperaktif, impulsif, dan kurang tidur sejak pensiun dari seni beladiri campuran pada 2013.
Dalam dunia medis, seluruh gejala yang dialami Julie Kedzie itu dikenal dengan istilah chronic traumatic encephalopathy (CTE). Kondisi itu berpotensi memburuk dan bisa mengarah ke demensia (pengurangan daya ingat).
Baca Juga: Mengenal Demensia Frontotemporal, Penyakit Yang Dialami Aktor Bruce Willis
Julie Kedzie menduga ia mengalami CTE sebagai dampak mengalami pukulan di kepala sepanjang kariernya sebagai atlet seni beladiri campuran.
Petarung dengan julukan Fireball ini punya catatan 29 pertarungan dengan 16 kali menang dan 13 kali kalah.
“(Donasi otak) ini tampaknya hal yang sangat normal untuk dilakukan,” kata Kedzie.
“Saya mendapatkan banyak pukulan di kepala jadi kita mungkin juga bisa melihat apa yang ada di sana dan mendapatkan beberapa yang baik dari sana sebagai data.”
Lebih dari itu, Kedzie mengatakan keputusannya menyumbangkan otak dilakukannya untuk mengembangkan keamanan perempuan di seni beladiri campuran.
Baca Juga: Mengenal Gegar Otak yang Dialami Marc Marquez dan Langkah Pertolongan Awalnya
“Jika ada satu cara di mana saya bisa terus mendorong (kemajuan) di area (seni bela diri campuran) ini dan meningkatkan kewaspadaan perempuan, maka ya (saya bersedia melakukannya),” kata Kedzie.
Julie Kedzie bukan satu-satunya atlet yang menyumbangkan otaknya untuk penyelidikan CTE. Tahun lalu, atlet rugbi putri Australia, Heather Anderson, adalah atlet profesional pertama yang didiagnosa mengalami CTE.
Heather Anderson sendiri bunuh diri di usia 28 tahun pada 2022. Otaknya kemudian disumbangkan ke Yayasan Warisan Gegar Otak (CLF).
“Heather Anderson bukan satu-satunya perempuan dengan CTE dan saya harap kita bisa mulai mengubah apa yang akan kirta lakukan secepatnya dari pada terlambat,” kata dokter ahli syaraf dan mantan pegulat WWE, Dr Chris Nowinski.
Penyelidikan CTE sendiri hanya bisa dilakukan pada otak di tubuh yang sudah tak bernyawa. Data CLF menyebutkan bahwa dari 1.000 penyelidikan otak sepuluh di antaranya datang dari atlet seni beladiri campuran.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 5Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 6India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 7Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 8Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan







